TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Empat titik api ditemukan di kawasan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Alam Sukses Lestari (ASL), Desa Pulau Patai, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Jumat, 25 September 2026.

Temuan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas perburuan liar setelah petugas menemukan bekas jaring garit di sekitar lokasi kebakaran.

Empat titik api itu ditemukan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) PT ASL saat melakukan penyisiran lanjutan setelah patroli menggunakan drone.

Pengendalian dilakukan sejak pukul 09.00 WIB hingga 15.30 WIB di Zona 18 Petak I16 yang merupakan kawasan Hutan Produksi Tetap.

Ketua Regu Brigdalkarhutla PT ASL, Nobby, mengatakan penyisiran dilakukan pada batas area yang telah dikendalikan sehari sebelumnya.

Dari kegiatan tersebut, tim menemukan sejumlah titik api yang masih menjalar melewati sekat serta bara pada tunggul kayu lapuk dan kayu rebah.

“Tim melaksanakan penyisiran di batas hasil pengendalian pada hari sebelumnya. Dari penyisiran itu ditemukan titik api yang masih menyeberang sekat serta bara api yang memakan tunggul kayu lapuk dan kayu rebah,” tutur Nobby.

Kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Lokasi didominasi hutan sekunder dan semak belukar yang cukup lebat dengan tanah mineral serta lapisan serasah.

Sejumlah tunggul dan kayu rebah juga sulit dipindahkan secara manual sehingga memungkinkan bara api bertahan lebih lama.

Untuk memutus sumber bara, petugas memotong tunggul kayu lapuk menggunakan parang kemudian memindahkannya dengan alat pengungkit. Tim juga membuat sekat tebas tambahan untuk menghentikan kemungkinan penjalaran api ke area lain.

“Untuk memutus bara api, tunggul kayu lapuk dipotong menggunakan parang kemudian dipindahkan dengan alat pengungkit. Kami juga membuat sekat tebas baru untuk memutus jalur penjalaran api,” ujarnya.

Dalam operasi tersebut, empat personel Brigdalkarhutla PT ASL dikerahkan menggunakan satu unit kendaraan roda empat. Peralatan yang digunakan terdiri atas empat bilah parang dan dua unit garuk pacul.

Sementara itu, sumber air terdekat berupa embung atau kolam berjarak sekitar 1.000 meter dari lokasi kebakaran. Kondisi tersebut turut menjadi tantangan bagi petugas dalam melakukan pengendalian titik api di lapangan.

Nobby menyebut empat titik api yang ditemukan berukuran kecil dan tersebar di beberapa lokasi. Seluruh titik api telah berhasil dipadamkan, sedangkan luas lahan yang terbakar masih dalam proses identifikasi dan analisis.

“Situasi terakhir sudah padam. Untuk luas lahan yang terbakar masih dalam tahap identifikasi dan analisa,” katanya.

Di sekitar lokasi kebakaran, petugas juga menemukan bilah bekas jaring garit. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi yang mengarah pada dugaan adanya aktivitas perburuan liar di kawasan tersebut.

Meski demikian, dugaan keterkaitan dengan aktivitas perburuan liar tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kebakaran. Temuan jaring garit merupakan indikasi lapangan yang masih perlu dilihat dalam konteks keseluruhan kondisi di lokasi.

Setelah proses pemadaman selesai, Brigdalkarhutla PT ASL dijadwalkan melakukan monitoring kembali pada Sabtu, 26 September 2026.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara api yang kembali menyala, terutama pada tunggul kayu lapuk dan lapisan serasah.

Selain monitoring, pihak PT ASL juga merencanakan pemeliharaan serta pemasangan papan informasi di sepanjang batas konsesi.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat pengawasan kawasan sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat mengenai batas konsesi dan pentingnya mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)