BORNEONEWS, Tamiang Layang – Sebanyak 119 personel dikerahkan untuk menangani tujuh titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar semak belukar di kawasan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Hutan Amanah Lestari (HAL), Desa Jurubanu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Jumat, 25 September 2026.
Pemadaman berlangsung sejak pukul 07.00 WIB hingga 21.00 WIB. Namun, hingga pengendalian dihentikan sementara pada malam hari, seluruh titik api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Ketua Regu Brigdalkarhutla PT HAL, Nobby, mengatakan petugas harus bekerja ekstra karena kondisi lokasi kebakaran cukup sulit dan sumber air terbatas.
“Untuk sementara ada tujuh titik api yang kami temukan. Pemadaman masih terus dilakukan karena kondisi di lapangan cukup menyulitkan,” katanya.
Tujuh titik api tersebut berada di Petak S5, S6, T5 dan T6 yang merupakan kawasan Hutan Produksi Tetap. Keberadaan titik api diketahui berdasarkan identifikasi hotspot melalui Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) serta hasil patroli internal perusahaan.
Lokasi kebakaran didominasi semak belukar dengan kondisi tanah berupa gambut tipis. Api yang ditemukan merupakan tipe kebakaran di atas permukaan. Sementara itu, luas lahan yang terbakar masih dalam proses identifikasi dan analisis.
Nobby menyebut penyebab kebakaran untuk sementara diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang melakukan peremajaan rumput untuk kebutuhan pakan ternak.
Meski demikian, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir dan masih memerlukan pendalaman untuk memastikan sumber api.
“Dugaan sementara karena peremajaan rumput untuk pakan ternak oleh masyarakat. Tetapi untuk luas terbakar masih dalam proses identifikasi dan analisa,” ujarnya.
Dalam operasi pengendalian tersebut, 12 personel Regu Brigdalkarhutla PT HAL bergabung dengan 107 personel dari Polres Barito Timur, BPBD Damkar dan TNI.
Total 119 personel diterjunkan untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api meluas ke kawasan lainnya.
Berbagai sarana pemadaman dikerahkan untuk mendukung operasi di lapangan. Di antaranya satu unit fire truck berkapasitas 10.000 liter, water truck 55.000 liter, water cannon 6.500 liter, water truck 30.000 liter dan water tank 10.000 liter.
Petugas juga menggunakan dua unit drone untuk memantau kondisi kebakaran dari udara.
Sementara peralatan pemadaman lainnya terdiri atas lima jet shooter, tiga gepyok, satu pompa jinjing, selang hisap, sembilan unit selang berukuran 2,5 inci, 10 unit selang 1,5 inci serta sejumlah nozzle dan perlengkapan pendukung.
Meski dukungan personel dan peralatan cukup besar, proses pemadaman menghadapi kendala serius berupa keterbatasan sumber air.
Embung atau kolam terdekat berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi kebakaran. Kondisi tersebut membuat armada pemadam harus berulang kali meninggalkan lokasi untuk mengisi air sebelum kembali melakukan penyemprotan.
“Yang menjadi kendala adalah sumber air minim. Water truck dan fire truck perlu mengisi air selama kurang lebih 30 menit sebelum kembali melakukan pemadaman,” jelas Nobby.
Jarak sumber air tersebut membuat ritme pemadaman menjadi lebih lambat. Petugas harus mengatur penggunaan air sekaligus memastikan setiap titik api tetap mendapat penanganan.
Pemadaman dilakukan secara langsung pada titik-titik api untuk mencegah kobaran berkembang dan menjalar ke bagian kawasan lainnya.
Hingga pukul 21.00 WIB, pengendalian belum sepenuhnya tuntas. Brigdalkarhutla PT HAL bersama unsur terkait akan kembali melakukan pemadaman pada Sabtu, 25 September 2026.
Selain melanjutkan pemadaman, tim juga merencanakan pengerahan alat berat dan pembuatan sekat batas.
Langkah tersebut akan disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan untuk membatasi potensi penyebaran api sekaligus memudahkan petugas melakukan pengendalian lanjutan.
Dengan masih berlangsungnya pemadaman, petugas terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang telah ditangani untuk mengantisipasi munculnya kembali api akibat bara atau penjalaran api di bawah permukaan. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









