BORNEONEWS, Tamiang Layang – Sebanyak 115 personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Juru Banu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Jumat, 25 September 2026. Tim gabungan bergerak melakukan pemadaman di sejumlah titik sekaligus mengantisipasi pergerakan kepala api menuju wilayah Kalimantan Selatan.
Kabagops Polres Barito Timur Kompol Volvy Apriana mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel Polri, TNI serta unsur terkait. Tim terlebih dahulu melaksanakan apel keberangkatan di Polres Barito Timur sekitar pukul 07.00 WIB sebelum bergerak menuju lokasi.
“Pukul 08.30 WIB dilaksanakan apel gabungan personel Polri dan TNI di Pos Perbatasan PT Adaro di Pasar Panas. Setelah itu tim bergerak menuju jalan hauling KM 10 Desa Juru Banu,” kata Volvy dalam laporannya.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 09.10 WIB, tim langsung melakukan pemantauan menggunakan drone untuk mengetahui arah pergerakan kepala api. Dari hasil pemantauan udara, kepala api terlihat bergerak lurus ke arah utara atau menuju wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, dengan jarak sekitar 800 meter.
“Dari hasil pemantauan menggunakan drone, titik kepala api mengarah lurus ke utara, yaitu ke wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, sejauh kurang lebih 800 meter,” ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan, personel dibagi menjadi tiga regu. Regu 1 menangani titik api di sekitar Km 11, sedangkan Regu 2 melakukan pemadaman di sekitar Km 10,5. Sementara Regu 3 menyisir dan melakukan pemadaman sepanjang jalur hauling dari Km 10 hingga Km 12.
Selain pemadaman langsung, tim juga menyiapkan langkah antisipasi untuk memutus pergerakan api. Excavator (exca) ditempatkan di sekitar Km 12 untuk membuka dan membuat sekat jalan sebagai penghalang agar kepala api tidak kembali bergerak ke wilayah Barito Timur.
Menurut Volvy, PT ASL juga menyiapkan dukungan sumber air untuk proses pembuatan sekat. Embung direncanakan dibuat setiap 50 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter. Apabila embung yang dibuat tidak menemukan sumber air, perusahaan akan menempatkan tandon portabel untuk mendukung pembasahan.
“Apabila tidak ada air saat embung dibuat, PT ASL akan menempatkan tandon portable sebagai support air untuk pembasahan dalam pembuatan sekat jalan,” jelasnya.
Setelah sekat di sisi Barito Timur selesai, excavator direncanakan melanjutkan pekerjaan di Km 8. Langkah tersebut ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan api ke arah wilayah Barito Selatan.
Di tengah operasi pemadaman, kondisi angin menjadi salah satu tantangan bagi tim di lapangan. Angin dilaporkan bertiup cukup kencang dan mengarah ke utara atau menuju wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, sehingga pemantauan pergerakan kepala api terus dilakukan secara intensif.
Volvy menegaskan seluruh regu telah bergerak menjalankan tugas masing-masing dengan pengawasan perwira pengendali (Padal). Penanganan dilakukan secara simultan antara pemadaman titik api, pemantauan pergerakan kebakaran serta pembuatan sekat untuk mencegah api meluas.
“Regu 1, Regu 2 dan Regu 3 sudah bergerak melaksanakan tugas masing-masing dengan dipimpin Padal,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









