BORNEONEWS, Jakarta - Duta Besar (Dubes) Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen menegaskan dukungan Belanda terhadap kebebasan pers melalui penyelenggaraan Pameran Foto Pers Dunia (World Press Photo Exhibition) 2026 di Jakarta.
"Kebebasan pers merupakan salah satu prioritas utama Belanda dalam bidang hak asasi manusia dan menjadi salah satu hal yang banyak kami kerjakan sebagai kedutaan," kata Dubes Marc dalam sambutannya pada pembukaan pameran World Press Photo 2026 di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat.
Menurut dia, jurnalisme bukanlah profesi yang selalu aman karena penyampaian kebenaran dapat membawa risiko besar bagi para jurnalis, antara lain ancaman kekerasan hingga mempertaruhkan nyawa ketika meliput bencana alam maupun konflik.
Marc mengatakan Belanda mendukung berbagai organisasi jurnalis di Indonesia dan memandang pers sebagai institusi penting dalam setiap sistem demokrasi. "Kami bangga mendukung kebebasan media di manapun, termasuk di Indonesia, yang juga tercermin dalam pameran tahun ini," ujarnya.
Ia menjelaskan World Press Photo merupakan organisasi nirlaba independen yang didirikan di Belanda pada 1955 untuk memperkuat peran foto jurnalistik dalam memperdalam pemahaman, mendorong dialog, dan menginspirasi aksi.
Pameran tahun ini menampilkan karya-karya pemenang kompetisi World Press Photo ke-69 yang mengangkat beragam perspektif dari berbagai wilayah dunia. Karya-karya tersebut memadukan isu global dengan kisah personal, mulai dari konflik dan krisis hingga ketahanan dan harapan.
"Jika digabungkan, karya-karya ini memberikan gambaran tentang dunia kita saat ini. Dengan melihatnya kita merasa terhubung dengan kehidupan banyak orang dari berbagai belahan dunia," katanya.
Marc juga menyoroti meningkatnya peran fotografer lokal dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa. Sebanyak 31 dari 42 pemenang tahun ini berasal dari wilayah yang mereka liput sehingga cerita masyarakat dapat disampaikan oleh orang-orang dari komunitas mereka sendiri.
Sementara itu Manajer Pameran World Press Photo Mariana Rettore Babtista mengatakan kompetisi tahun ini menerima lebih dari 57 ribu foto dari 3.747 fotografer profesional dari 141 negara.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42 cerita dipilih sebagai pemenang berdasarkan keunggulan visual dan kedalaman investigasi. Karya-karya tersebut mengangkat berbagai isu, antara lain politik, gender, migrasi, konflik, dan krisis iklim.
Mariana mengatakan fotografi tidak lagi sekadar menjadi sarana untuk mendokumentasikan peristiwa, tetapi juga dapat menjadi ruang dialog dan bentuk perlawanan terhadap penyederhanaan realitas.
"Realitas jarang sesederhana itu. Dalam lingkungan seperti ini, fotografi menjadi lebih dari sekadar cara untuk mendokumentasikan peristiwa. Fotografi menjadi bentuk perlawanan dan ruang untuk berdialog," katanya.
Pameran tersebut antara lain menampilkan dokumentasi mengenai aksi protes di Argentina, Madagaskar, dan Nepal, penegakan hukum di Amerika Serikat, kekerasan polisi di Rio de Janeiro, serta konflik yang berlangsung di Gaza dan Ukraina.
Krisis iklim juga diangkat melalui cerita dari negara-negara kepulauan Pasifik, Meksiko, AS, dan Filipina. Di sisi lain, sejumlah karya memperlihatkan harapan dan ketangguhan masyarakat, termasuk perempuan di Guatemala yang membawa pelaku kekerasan terhadap mereka ke pengadilan dan perempuan Maroko yang menentang aturan patriarki.
Mariana menekankan pentingnya mempertahankan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers di tengah meningkatnya disinformasi serta konflik dan krisis di berbagai belahan dunia.
Ia mengatakan setiap gambar yang ditampilkan dalam pameran telah melalui pemeriksaan forensik yang ketat untuk memastikan keasliannya.
"Koleksi foto yang ditampilkan di sini lebih dari sekadar visual yang kuat. Pameran ini juga merupakan ajakan untuk berkomitmen pada kebebasan berekspresi dan kebebasan pers," katanya.
Ia menambahkan bahwa tanpa kerja para pekerja media dan pers, sebagian besar kisah yang ditampilkan dalam pameran tersebut tidak akan diketahui publik.
Mariana juga menyampaikan penghormatan kepada para fotografer dan jurnalis yang mendedikasikan hidup mereka untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa, termasuk mereka yang bekerja di tengah perang dan krisis.
Ia turut menyampaikan belasungkawa atas hilangnya fotografer jurnalistik Indonesia Ari Basuki bersama sejumlah jurnalis lainnya ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Karya Ari Basuki sebelumnya meraih penghargaan dalam kompetisi World Press Photo 2024.
Pameran World Press Photo di Jakarta tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-28 dan kembali terlaksana melalui kerja sama jangka panjang antara World Press Photo Foundation, Erasmus Huis, dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.
Mariana mengajak pengunjung melihat karya-karya tersebut dengan keterbukaan dan rasa ingin tahu serta tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut merefleksikan berbagai persoalan yang diangkat.
"Jika kita membiarkan diri untuk melihat lebih dalam, foto-foto ini dapat menghubungkan kita dengan realitas yang belum kita kenal dan dengan orang-orang yang mungkin tidak pernah kita temui," katanya.
Pameran World Press Photo 2026 di Jakarta dibuka pada Jumat, 25 September 2026 dan berlangsung hingga 24 Oktober 2026 di Erasmus Huis Jakarta.
ANTARA








