SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Seekor bekantan terlihat berkeliaran di area Pelabuhan Pelindo Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu, 26 September 2026.

Kemunculan satwa liar dilindungi tersebut diketahui setelah dilaporkan oleh seorang warga. Menindaklanjuti laporan tersebut, Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah berkoordinasi dengan Simon, staf HSSE atau tim keselamatan di Pelabuhan Pelindo Bagendang.

Berdasarkan keterangan Simon, terdapat satu individu bekantan yang terlihat berada di atas sebatang pohon di kawasan pelabuhan. Di sekitar lokasi tersebut juga terdapat pohon sawo.

Muriansyah mengatakan kemunculan bekantan di area sekitar pelabuhan tergolong jarang. Satwa yang lebih sering terlihat di kawasan tersebut adalah monyet ekor panjang.

Meski berada di kawasan aktivitas pelabuhan, keberadaan bekantan tersebut sejauh ini tidak mengganggu kegiatan operasional.

Muriansyah juga memastikan tidak ada kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Pelabuhan Pelindo Bagendang yang mendorong bekantan berkeliaran di lokasi tersebut. 

Bekantan kemungkinan datang ke kawasan tersebut untuk mencari makanan. Selain pucuk daun, buah juga menjadi salah satu sumber pakan satwa tersebut.

"Dari keterangan Pak Simon tadi, dugaan saya, bekantan datang ke lokasi tersebut untuk mencari makan. Selain pucuk-pucuk daun, buah juga merupakan pakan bekantan," kata Muriansyah," Sabtu, 26 September 2026.

Di sekitar kawasan pelabuhan terdapat Sungai Lenggana. Area di sekitar muara sungai tersebut masih memiliki pepohonan yang menjadi wilayah jelajah sejumlah satwa liar, termasuk monyet ekor panjang dan bekantan.

Kondisi tersebut memungkinkan satwa bergerak dari habitatnya menuju kawasan yang masih memiliki sumber pakan, termasuk area di sekitar aktivitas manusia.

Muriansyah mengatakan bekantan yang berada di kawasan pelabuhan tersebut tidak perlu langsung dievakuasi atau dipindahkan selama keberadaannya tidak mengganggu dan membahayakan masyarakat.

"Selama tidak mengganggu dan membahayakan warga masyarakat, satwa liar tidak perlu di-rescue dan ditranslokasi atau dipindahkan," ujarnya.

Meski demikian, BKSDA meminta keberadaan bekantan tersebut tetap dipantau. Muriansyah juga telah berpesan kepada pihak keamanan pelabuhan agar mencegah warga mengganggu satwa tersebut.

Gangguan yang dimaksud antara lain melempar bekantan dengan batu atau kayu hingga berupaya menangkapnya.

"Saya sudah berpesan dengan Pak Simon, agar pihak security yang bertugas di sana melarang warga yang ingin mengganggu bekantan, misal melempar dengan batu atau kayu, atau bahkan menangkapnya. Tapi tetap dilakukan pemantauan terhadap bekantan tersebut," jelasnya.

Muriansyah menambahkan, bekantan merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Karena itu masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang dapat melukai, menangkap atau mengganggu satwa tersebut.

Ia menambahkan, bekantan pada umumnya hidup bersama kelompoknya. Namun, individu yang terlihat di Pelabuhan Bagendang kali ini hanya berada seorang diri.

Berdasarkan foto dan video yang diterima, kondisi bekantan tersebut belum terlihat terlalu jelas. Akan tetapi, dari ukurannya, satwa tersebut diperkirakan sudah berukuran besar atau dewasa.

Muriansyah menduga bekantan tersebut kemungkinan berjenis kelamin jantan. Jika benar merupakan pejantan, ada kemungkinan satwa tersebut merupakan individu yang kalah dalam persaingan di dalam kelompoknya sehingga terusir dan kemudian bergerak sendiri.

"Kalau memang jantan, bisa saja pejantan yang kalah dan terusir dalam persaingan dari kawanannya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)