MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Sebanyak 36 tenaga kesehatan dari 17 puskesmas dan RSUD Muara Teweh diperkuat kemampuannya dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal di Kabupaten Barito Utara.

Penguatan kompetensi tersebut mencakup pertolongan pertama pada kondisi darurat ibu melahirkan, bayi baru lahir, gangguan jalan napas, syok hingga proses evakuasi dan rujukan.

Ketua Panitia Pelatihan Basic Obstetric Neonatal Emergency Life Support atau BONELS Ermidawaty mengatakan kemampuan tersebut penting karena bidan menjadi tenaga kesehatan yang kerap berada paling dekat dengan masyarakat ketika kondisi kegawatdaruratan terjadi.

“Sebagai tenaga kesehatan yang berada di tengah-tengah masyarakat, bidan dapat dihadapkan pada kasus kegawatdaruratan umum. Karena itu, diperlukan peningkatan kualitas dan kompetensi bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan sesuai dengan kompetensinya,” ujar Ermidawaty, Sabtu, 26 September 2026.

Menurutnya, kemampuan memberikan pertolongan secara cepat dan tepat menjadi penting untuk mengurangi risiko komplikasi berat pada ibu maupun bayi.

“Dengan memiliki kompetensi BONELS, bidan diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat, sehingga dapat membantu menyelamatkan nyawa serta meminimalkan risiko kecacatan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” katanya.

Materi yang diberikan meliputi pencegahan infeksi, pengisian partograf, Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, Bantuan Hidup Dasar, initial assessment, penatalaksanaan persalinan dengan penyulit, penanganan pascapersalinan serta asfiksia pada bayi baru lahir.

Peserta juga dibekali keterampilan menangani gangguan jalan napas dan pernapasan, syok hemoragik, trauma muskuloskeletal, evakuasi dan transportasi pasien serta proses rujukan.

Sebanyak 36 peserta berasal dari seluruh 17 puskesmas di Barito Utara serta RSUD Muara Teweh.

Penguatan kemampuan dilakukan selama lima hari, 24–28 September 2026, dengan metode pembelajaran daring dan tatap muka.

Dua hari pertama dilaksanakan secara daring, kemudian dilanjutkan pembelajaran langsung selama tiga hari di RSUD Muara Teweh.

Program tersebut memiliki beban pembelajaran sebanyak 33 jam pelajaran dan peserta memperoleh 10 Satuan Kredit Profesi.

Metode pembelajaran tidak hanya berupa teori, tetapi juga diskusi kelompok, role play, praktikum, simulasi hingga simulasi komprehensif untuk menghadapi skenario kegawatdaruratan.

Ermidawaty berharap kompetensi yang diperoleh dapat langsung diterapkan di fasilitas kesehatan masing-masing, terutama ketika tenaga kesehatan menghadapi kondisi darurat maternal dan neonatal yang membutuhkan respons cepat. (RAMADHANI/R)