BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur terus menunjukkan skala yang luas.
Hingga Sabtu, 26 September 2026, dashboard penanganan Karhutla BPBD Damkar Barito Timur mencatat 683 kejadian dengan total lahan terbakar mencapai 952,6 hektare.
Data tersebut menggambarkan luasnya wilayah yang terdampak kebakaran sepanjang periode penanganan Karhutla. Dari keseluruhan luasan itu, Kecamatan Pematang Karau mencatat area terbakar paling luas dengan 200,5 hektare.
Setelah Pematang Karau, Karusen Janang mencatat luas lahan terbakar mencapai 184,3 hektare, sedangkan Paju Epat berada di posisi berikutnya dengan 145,2 hektare. Ketiga kecamatan tersebut menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar berdasarkan data hingga 26 September 2026.
Jika dilihat dari jumlah kejadian, Karusen Janang mencatat angka tertinggi dengan 149 kejadian. Selanjutnya Paju Epat mencatat 121 kejadian, Pematang Karau 113 kejadian, Dusun Timur 95 kejadian dan Paku 83 kejadian.
Sejumlah kecamatan lainnya juga mencatat kejadian Karhutla. Raren Batuah mencatat 41 kejadian dengan luas lahan terbakar 98,7 hektare. Kemudian Dusun Tengah sebanyak 31 kejadian dengan 26,9 hektare, Awang 19 kejadian dengan 15,3 hektare, Patangkep Tutui 18 kejadian dengan 121,8 hektare serta Benua Lima 13 kejadian dengan 18,3 hektare.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan di tengah tingginya kejadian Karhutla.
“Melihat perkembangan Karhutla dan kondisi kualitas udara saat ini, kami terus meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat juga kami imbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap memperhatikan kondisi kesehatan ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya,” katanya.
Menurut Parluhutan, penanganan Karhutla membutuhkan respons cepat karena api dapat meluas ketika kondisi lapangan mendukung. Karena itu, petugas terus melakukan pemadaman di lokasi kejadian sekaligus memperkuat koordinasi dan kesiapan personel.
Pemerintah Kabupaten Barito Timur juga telah memetakan enam wilayah posko strategis untuk mempercepat respons terhadap kebakaran.
Posko tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan personel, peralatan dan koordinasi ketika terjadi Karhutla di sejumlah wilayah.
Besarnya luas lahan terbakar juga beriringan dengan memburuknya kualitas udara. Dashboard pada 26 September 2026 mencatat rata-rata ISPU tujuh hari terakhir mencapai 719,2 dan masuk kategori Berbahaya.
Kondisi tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak Karhutla
Pemerintah dan petugas terus mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu munculnya titik api baru.
Dengan 683 kejadian dan 952,6 hektare lahan terbakar, penanganan Karhutla di Barito Timur masih menghadapi tantangan besar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin sebelum api meluas. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









