BORNEONEWS, Tamiang Layang – Sebanyak 2.177 warga di Kabupaten Barito Timur terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori Berbahaya, Sabtu, 26 September 2026.
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi perhatian karena kualitas udara di sejumlah kecamatan menunjukkan tingkat pencemaran yang sangat tinggi.
Data pada dashboard penanganan bencana daerah mencatat 353 kejadian wabah penyakit di Barito Timur. Pada saat yang sama, pemantauan kualitas udara selama tujuh hari terakhir menunjukkan rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 719,2 atau masuk kategori Berbahaya.
Kondisi tersebut berlangsung ketika Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Barito Timur. Hingga 26 September 2026, tercatat 683 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 952,6 hektare.
Pemantauan pada Sabtu, 26 September 2026 menunjukkan Dusun Timur mencatat ISPU tertinggi dengan angka 1.848. Selanjutnya Paju Epat mencapai 1.487, Raren Batuah 1.327, Awang 1.305, Pematang Karau 1.270 dan Karusen Janang 1.239.
Pencemaran udara juga tercatat tinggi di kecamatan lainnya. ISPU di Paku mencapai 1.189, Dusun Tengah 1.176, Benua Lima 914 dan Patangkep Tutui 405.
Seluruh wilayah yang tercantum dalam pemantauan tersebut berada dalam kategori Berbahaya dengan tingkat pencemaran yang berbeda.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri ketika beraktivitas di tengah paparan asap.
“Dengan kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori Berbahaya dan jumlah warga yang terdampak ISPA mencapai 2.177 jiwa, kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap. Masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan asap,” katanya.
Parluhutan juga meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembakaran yang dapat memicu kebakaran baru.
Menurutnya, pengendalian Karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat karena asap kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan berdampak terhadap kesehatan.
“Kami tetap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu terjadinya Karhutla. Kondisi saat ini membutuhkan perhatian bersama karena dampak kebakaran tidak hanya terhadap lingkungan tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Tingginya angka ISPA berjalan beriringan dengan kondisi Karhutla yang masih meluas. Data hingga Sabtu mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 952,6 hektare dari 683 kejadian, sehingga asap masih menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai masyarakat.
Dengan 2.177 warga terdampak ISPA dan rata-rata ISPU tujuh hari terakhir mencapai 719,2, masyarakat perlu membatasi paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat juga diimbau memantau perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









