BORNEONEWS, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan setelah pernyataannya mengenai “roda kehidupan masyarakat berjalan normal” di tengah kabut asap Kalimantan menimbulkan sorotan.
Suharyanto menjelaskan penggunaan kata “normal” dalam rapat terbatas bersama Presiden pada 23 September 2026 tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi lingkungan maupun kehidupan masyarakat telah kembali pulih.
“Saya memahami penggunaan kata ‘normal’ dapat menimbulkan persepsi seolah-olah kondisi masyarakat tidak terdampak. Untuk itu saya perlu meluruskan bahwa kondisi karhutla masih memerlukan penanganan serius dan pemerintah tidak menganggap persoalan ini telah selesai,” kata Suharyanto dikutip Minggu, 27 September 2026.
Menurutnya, istilah normal yang digunakan saat itu hanya mengacu pada sejumlah aktivitas dasar masyarakat yang masih berjalan, seperti lalu lintas darat, perdagangan dan pelayanan umum.
Pernyataan tersebut, kata dia, bukan untuk mengabaikan kesulitan yang dialami masyarakat maupun menurunnya kualitas hidup akibat kabut asap.
BNPB mengakui sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, masih menghadapi dampak serius karhutla.
Kabut asap telah berdampak terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, kegiatan pendidikan hingga aktivitas penerbangan.
Suharyanto sebelumnya juga melaporkan tebalnya kabut asap di sejumlah wilayah Kalteng dan Kalbar mengganggu penerbangan komersial maupun operasi udara dalam penanganan karhutla.
“Jika pilihan kata yang saya gunakan dalam laporan tersebut dinilai menimbulkan kesan bahwa pemerintah menganggap kondisi masyarakat di tengah bencana kabut asap sebagai situasi yang biasa saja, bukan begitu maksud saya,” ujarnya.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan dan unsur terkait disebut masih melakukan pemadaman serta penanganan dampak kesehatan masyarakat.
Selain itu, BNPB menyatakan terus memperbaiki integrasi data lapangan agar laporan mengenai kondisi karhutla dapat menggambarkan situasi secara lebih utuh.
“Keselamatan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat terdampak selalu menjadi prioritas utama kami,” kata Suharyanto.
ANTARA









