BORNEONEWS, Sampit - Di tengah kepungan asap tebal dan tanah yang masih menyimpan bara, seekor orangutan bertahan di atas pohon kering di kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
"Kami menerima laporan dari warga Ramban dan pihak perusahaan tentang keberadaan satu individu Orangutan di sebatang pohon kering perbatasan HTR Ramban dan PT MJSP," kata Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, Minggu, 27 September 2026.
Malam itu, Jumat, 25 September 2026, penyelamatan menjadi berpacu dengan waktu. Individu orangutan betina yang kemudian diberi nama Sindi tersebut berada di kawasan yang vegetasinya didominasi tanaman kelapa sawit, sebagian masih terbakar.
Sindi diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat 32 kilogram. Keberadaannya pertama kali diketahui regu pemadam dari pihak perusahaan yang sedang mengambil air di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB.
Warga Ramban dan pihak perusahaan kemudian melaporkan keberadaan satwa dilindungi tersebut kepada petugas BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 15.30 WIB.
Muriansyah mengatakan laporan tersebut langsung diteruskan kepada pimpinan di Pangkalan Bun. Setelah mempertimbangkan kondisi lokasi dan keselamatan satwa, diputuskan dilakukan operasi penyelamatan.
Tim rescue Seksi KSDA Wilayah II dan Yayasan OFI kemudian bergerak menuju lokasi. Sekitar pukul 17.20 WIB, tim rescue berangkat dari Pangkalan Bun. Sementara petugas BKSDA Pos Sampit berangkat sekitar pukul 18.00 WIB untuk membantu memantau pergerakan orangutan.
Perjalanan dan operasi penyelamatan berlangsung hingga malam. Sekitar pukul 22.00 WIB, tim rescue tiba di lokasi dan langsung memulai upaya evakuasi.
Namun, penyelamatan tidak berjalan mudah. Orangutan terus berpindah-pindah. Posisi satwa berada di dahan pohon yang cukup tinggi sehingga menyulitkan petugas melakukan pembiusan. Situasi semakin berat karena asap kebakaran menyelimuti lokasi.
Di bawah pohon, kondisi tanah juga belum sepenuhnya aman. Bara api masih terdapat di sejumlah bagian lahan. Tim harus berhati-hati agar proses penyelamatan tidak justru membahayakan petugas maupun orangutan.
Setelah beberapa jam melakukan upaya pembiusan, sekitar pukul 02.00 WIB, Sindi akhirnya berhasil terbius.
Namun persoalan belum selesai. Tubuh Sindi tersangkut di antara dahan pohon. Petugas kemudian harus memanjat pohon untuk menurunkan individu orangutan tersebut dengan aman.
Sekitar pukul 02.30 WIB, Sindi akhirnya berhasil diturunkan dari atas pohon. Setelah berhasil dievakuasi, tim langsung melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi fisik Sindi. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan luka bakar maupun luka lainnya pada tubuh orangutan betina tersebut.
Operasi penyelamatan kemudian dilanjutkan dengan membawa Sindi keluar dari lokasi karhutla. Sekitar pukul 04.30 WIB, tim rescue bergerak menuju Kota Sampit sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Bun.
Setelah perjalanan panjang, tim tiba di Pangkalan Bun sekitar pukul 10.00 WIB. Sindi kemudian dibawa ke klinik dan fasilitas karantina orangutan milik Yayasan OFI untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan darah dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa tersebut, termasuk memastikan tidak membawa penyakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi Sindi sehat.
Setelah hasil pemeriksaan kesehatan keluar, tim mendapatkan arahan dari Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II.
Sindi selanjutnya direncanakan ditranslokasi ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Translokasi tersebut menjadi langkah berikutnya agar Sindi dapat kembali menjalani kehidupan di kawasan yang lebih aman dari ancaman kebakaran.
Penyelamatan Sindi menjadi salah satu upaya penyelamatan satwa liar yang terdampak karhutla di Kotim. Dalam kondisi kebakaran yang meluas, keberadaan satwa di sekitar area terbakar menjadi perhatian karena habitat dan sumber pakan mereka ikut terdampak.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada warga dusun Ramban dan pihak perusahaan yang sudah membantu dalam giat rescue orangutan," pungkas Muriansyah. (DEWI PATMALASARI/j)









