BORNEONEWS, New York – Indonesia mendorong reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa agar lebih representatif, tangguh, dan mampu merespons krisis global secara lebih efektif.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan peran PBB sebagai forum multilateral yang mempertemukan seluruh negara masih penting, tetapi lembaga tersebut perlu terus menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.
“Indonesia senantiasa percaya pada PBB. Akan tetapi, kepercayaan pada PBB juga berarti percaya bahwa PBB harus berevolusi seiring dengan dunia yang dilayaninya,” kata Sugiono dalam pernyataan nasional Indonesia pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York.
Menurutnya, PBB tetap memiliki fungsi penting sebagai ruang bagi negara-negara untuk mencari titik temu di tengah perbedaan kepentingan tanpa harus mengandalkan konflik.
Sugiono menilai kelemahan dalam sistem multilateralisme tidak seharusnya dijawab dengan mengurangi kerja sama internasional.
Sebaliknya, Indonesia mendorong sistem multilateral yang lebih kuat dan sesuai dengan tantangan abad ke-21.
“Sistem multilateral yang relevan untuk abad ke-21 harus lebih representatif, lebih tangkas, dan lebih mampu memberikan hasil nyata,” ujarnya.
Indonesia memandang reformasi kelembagaan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Namun, meningkatnya krisis kemanusiaan, konflik, tekanan ekonomi dan tantangan lintas negara dinilai membuat pembenahan tidak bisa terus ditunda.
Sugiono mengatakan salah satu langkah yang diperlukan adalah memperkuat kemampuan kolektif negara-negara untuk menghadapi krisis serta menjaga perdamaian, pembangunan dan kerja sama internasional.
Selain struktur PBB, Indonesia juga menyoroti perlunya pembenahan arsitektur keuangan internasional.
Menurut pemerintah Indonesia, sistem keuangan global perlu memberikan ruang lebih besar bagi negara berkembang untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan menentukan prioritas nasionalnya.
Dorongan reformasi multilateralisme juga menjadi salah satu agenda diplomasi Indonesia dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB tahun ini. Indonesia sebelumnya menegaskan peran middle powers dapat digunakan untuk menjembatani perbedaan dan mendorong pembaruan sistem multilateral.
Sugiono mengatakan kontribusi Indonesia di tingkat global juga berkaitan dengan kemampuan membangun ketahanan di dalam negeri.
Ketahanan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, persatuan di tengah keberagaman serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Sidang ke-81 Majelis Umum PBB sendiri mengangkat tema “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All”, dengan reformasi dan efektivitas lembaga multilateral menjadi bagian dari perdebatan global tahun ini.
Sugiono memimpin delegasi Indonesia dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB di New York sejak 21 September 2026 dan mengikuti sejumlah agenda bilateral maupun pertemuan tingkat tinggi.
ANTARA









