BORNEONEWS, Palangka Raya – Edukasi pertolongan pertama cedera olahraga yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (UPR) memberikan hasil positif bagi siswa SMA Negeri 1 Sampit.
Berdasarkan evaluasi melalui pre-test dan post-test, rata-rata pemahaman siswa mengenai penanganan cedera olahraga meningkat sebesar 51,83 persen setelah mengikuti pelatihan.
Tidak hanya itu, sebanyak 88,57 persen peserta berhasil mencapai kategori nilai Sangat Baik pada akhir kegiatan.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Yossita Wisman, SE., M.M.Pd., mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan pentingnya pembekalan keterampilan pertolongan pertama bagi siswa yang aktif mengikuti kegiatan olahraga.
Menurutnya, aktivitas olahraga di sekolah tidak terlepas dari risiko cedera, mulai dari keseleo, kram otot, memar hingga luka lecet.
Karena itu, siswa perlu mengetahui tindakan awal yang dapat dilakukan secara cepat, tepat dan aman sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut apabila diperlukan.
Salah satu materi yang diberikan adalah metode RICE, yakni Rest, Ice, Compression dan Elevation. Selain teori, peserta juga mendapatkan demonstrasi dan kesempatan mempraktikkan langsung teknik pertolongan pertama.
"Melalui kegiatan ini, kami membekali para siswa dengan pengetahuan dan teknik penanganan awal cedera yang cepat, tepat, dan aman, salah satunya melalui metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) serta tindakan pertolongan dasar lainnya," ujar Yossita kepada Borneonews pada Minggu, 27 September 2026.
Pelatihan yang dikemas secara interaktif dengan materi digital tersebut mendapat respons antusias dari puluhan siswa SMAN 1 Sampit.
Kegiatan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin Yossita bersama Prof. Dr. U.Z. Mikdar, M.Pd., Dr. Indrianto Arif Ramadhana, M.Pd., Sikaevia, S.K.M., M.Kes., Uswatun Hasanah P.S., M.Kes., dan Iwan Noor Alamsyah, M.Kes., serta mahasiswa PJKR UPR.
Pihak sekolah dan Tim UPR berharap peningkatan pemahaman tersebut tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi dapat diterapkan siswa dalam aktivitas olahraga sehari-hari untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman dan tanggap terhadap keadaan darurat sederhana. (TESTI PRISCILLA/j)









