JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Ketika tim penyelamat memasuki wilayah bencana tanpa jaringan internet, medan sulit dijangkau dan pandangan tertutup asap, kecepatan menemukan korban bisa menjadi penentu.

Kondisi seperti itulah yang coba dijawab melalui EagleEye Tactical SAR System, teknologi berbasis drone dan kecerdasan buatan yang dikembangkan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Kementerian Kehutanan.

Sistem tersebut dirancang sebagai pusat komando drone yang dapat membaca hasil penginderaan dari udara dan menganalisisnya menggunakan kecerdasan buatan secara aktual.

Dalam operasi pencarian dan penyelamatan, EagleEye dapat membantu mempercepat pembacaan kondisi lapangan. Sementara pada kebakaran hutan dan lahan, teknologi ini dirancang untuk membantu mendeteksi titik api, membaca ketebalan asap, mengenali petugas pemadam hingga mengidentifikasi satwa liar.

Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian adalah cara sistem bekerja ketika operasi berlangsung jauh dari jangkauan komunikasi.

Saat jaringan internet tersedia, tim dapat menggunakan Cloud AI Server untuk mendapatkan analisis dengan tingkat presisi lebih tinggi.

Namun ketika petugas memasuki daerah terisolasi atau blank spot, sistem dapat beralih menggunakan Local Edge AI Agent sehingga analisis tetap bisa dilakukan tanpa sepenuhnya bergantung pada koneksi internet.

Kemampuan tersebut membuat teknologi ini relevan untuk operasi di kawasan hutan maupun lokasi bencana yang sering kali memiliki keterbatasan akses komunikasi.

EagleEye juga dilengkapi modul pemrosesan citra malam hari berbasis Python, analisis video setelah penerbangan, serta sistem pengiriman peringatan taktis dengan latensi rendah.

Informasi mengenai korban yang terdeteksi juga dirancang dapat diteruskan ke telepon seluler petugas di lapangan sehingga rantai penyampaian informasi dapat dipersingkat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemanfaatan teknologi drone dan AI tersebut tidak hanya diarahkan untuk operasi SAR.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi drone dan kecerdasan buatan dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan di lapangan, baik dalam pencarian dan penyelamatan, penanganan karhutla, maupun perlindungan satwa liar,” ujarnya, Minggu, 27 September 2026.

Ia berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan agar penggunaannya semakin luas, terutama untuk membantu operasi karhutla dan penyelamatan satwa liar.

EagleEye sebelumnya membawa Kementerian Kehutanan meraih juara pertama kategori Pengembangan Drone Militer, SAR dan Bantuan Bencana dalam Open Tournament Piala Panglima TNI 2026.

Kompetisi berlangsung pada 22–26 September 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang Selatan dan diikuti 41 peserta dari unsur TNI, perguruan tinggi, kementerian, perusahaan serta masyarakat umum.

Namun di luar penghargaan tersebut, tantangan berikutnya adalah membawa teknologi itu keluar dari arena kompetisi dan mengujinya lebih luas dalam operasi nyata, ketika petugas harus bekerja menghadapi api, asap, medan sulit dan keterbatasan komunikasi.

ANTARA