SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur (Kotim) menyebut hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir menjadi tanda awal transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

"Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan tapi secara umum kita masih musim kemarau," kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo, Minggu, 27 September 2026.

BMKG memperkirakan musim hujan akan datang pada waktu yang berbeda di sejumlah wilayah Kotim. Kota Sampit dan sekitarnya diprakirakan memasuki awal musim hujan pada awal November 2026.

Sementara wilayah bagian utara Kotim diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni sekitar pertengahan Oktober. Adapun wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.

Mulyono mengatakan peluang pertumbuhan awan hujan di Kotim juga cukup tinggi hingga akhir September. Kondisi ini berpotensi memicu hujan di sejumlah wilayah, meski belum berarti musim hujan telah dimulai secara keseluruhan.

"Untuk besok hingga akhir bulan ini ada potensi pertumbuhan awan hujan sekitar 50-70 persen di wilayah Kotim, besok 27 September potensi di atas 70 persen potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim," jelasnya.

Meski hujan telah turun di beberapa wilayah dalam dua hari terakhir, Mulyono menyebut intensitas hujan tersebut belum dapat dikatakan mampu meredakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara menyeluruh.

Menurutnya, hujan yang turun saat ini lebih tepat disebut membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan. Untuk benar-benar meredakan karhutla, diperlukan hujan dengan intensitas lebat dan durasi yang cukup lama.

"Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi, hujan dengan intensitas lebat dan durasinya lama yang bisa meredakan karhutla," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)