BORNEONEWS, Palangka Raya - Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama PUI Mangrove USU menggelar International Summer Course Mangrove pada 22-29 September 2026 di Kampus USU Medan, Kampus Fakultas Kehutanan Kwala Bekala dan kawasan mangrove Pantai Sejarah Batubara.
Kegiatan yang diikuti 40 peserta mahasiswa S1, magister dan doktoral dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Pakistan, Nigeria, Mali berasal dari Chulalongkorn University, University of the Philipine Delliman, dan mahasiswa KNB (Kemitraan Negara Berkembang) dari berbagai kampus di Medan, seperti USU dan Unpri (Universitas Prima Indonesia).
Ketua SC Mangrove, Dr Amelia dalam sambutannya mengatakan, mangrove tidak lagi hanya dilihat sebagai pelindung pantai, namun sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat.
"Mangrove adalah masa depan bioekonomi Indonesia. Dari satu ekosistem mangrove kita bisa menghasilkan pangan, papan, bioenergi, biokimia, hingga karbon biru (blue carbon). Melalui summer course ini kita ingin mahasiswa S1/S2/S3 tidak hanya paham teori, tapi mampu meriset hilirisasi produk mangrove," kata Dr Amelia kepada Borneonews dalam rilisnya pada Minggu, 27 September 2026.
Summer Course ini menghadirkan narasumber internasional, antara lain Dr. Sagaran (Malaysian Green Technology Society), Dr.Sheriza (Universiti Putra Malaysia), dan narasumber lainnya dari Jepang, Mesir, dan USU.
Selama 7 hari, peserta mendapatkan materi kelas tentang ekologi mangrove, teknologi pengolahan hasil hutan mangrove seperti tannin, arang aktif, pewarna alami, biopelet, hingga perhitungan stok karbon dan perdagangan karbon.
Tidak hanya di kelas, peserta juga melakukan fieldtrip dan penanaman mangrove di Pantai Sejarah bersama Dr.Sagaran, Dr.Bejo Slamet, Dr.Amelia, Dr.Erni, Dr.Arif Nuryawan, Prof.Agus Purwoko, Prof. Rahmawaty, Dr. Nurdin, Pak Afifuddin, dan Pak Yunus serta Dr.Iwan Risnasari dan Dr.Kansih Sri Hartini.
Salah satu peserta asal Pakistan, Nazakat Hussain, mengaku antusias dengan kegiatan lapangan tersebut.
"Ini pertama kalinya saya ikut penanaman mangrove langsung bersama masyarakat. Sumatera Utara punya kawasan mangrove yang luar biasa untuk laboratorium alam, sangat relevan untuk riset tentang keberlanjutan pesisir," kata Nazakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Arida yang diwakili Wakil Dekan Dr.Anita, berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dan memperkuat posisi USU sebagai pusat riset mangrove di wilayah Barat Indonesia.
"Kami ingin summer course ini menjadi jembatan kolaborasi riset internasional. Output-nya bukan hanya publikasi, tapi juga model pengelolaan mangrove berbasis masyarakat yang bisa direplikasi," tutupnya.
Kegiatan pengabdian SC ini ditutup oleh Ketua PUI Mangrove USU, Prof.Dr.Mohammad Basyuni dan Ketua Kelompok Tani Cinta Mangrove Pak Azizi. (TESTI PRISCILLA/y)









