PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di sebagian wilayah Kalimantan Tengah, terutama bagian tengah hingga selatan, berada pada kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut berdasarkan peta analisis parameter cuaca Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berlaku untuk 27 September 2026.

Kategori sangat tinggi ditandai dengan zona merah, yakni kondisi alang-alang dan dedaunan yang sangat kering. Sementara itu, bagian utara Kalteng umumnya berada pada kategori aman.

Di tengah kondisi itu, BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah bersama sejumlah regu dan posko terus melakukan upaya pemadaman dan pengendalian karhutla.

Berdasarkan data harian BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah per Minggu, 27 September 2026, dalam 24 jam terakhir terdata total hotspot 3.096 titik, terdiri dari confidence rendah 19, menengah 2.969, dan tinggi 108. Tercatat pula 70 kejadian karhutla dengan total luas terbakar 288,46 hektare.

Wilayah dengan hotspot terbanyak adalah Kapuas (707), Pulang Pisau (562), dan Kotawaringin Timur (527). Luas terbakar terbesar ada di Kota Palangka Raya (155,21 Ha), disusul Barito Timur (62 Ha) dan Kapuas (22,70 Ha).

Berdasarkan prakiraan BMKG Kalteng, hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang berpotensi terjadi pada 27-29 September 2026. Cakupan terluas pada 27 September, meliputi Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas bagian utara dan tengah, Pulang Pisau bagian utara, serta Kota Palangka Raya.

Pada 28 September, potensi hujan terbatas di Murung Raya bagian utara, dan pada 29 September di Barito Utara bagian utara.

Untuk periode 30 September hingga 3 Oktober 2026, BMKG mencatat tidak ada wilayah yang berpotensi hujan sedang hingga lebat (nihil).

Masyarakat diimbau mewaspadai hujan lokal berdurasi singkat yang dapat disertai angin kencang atau angin puting beliung, serta tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun. (HERMAWAN DP/R)