PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah berada pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat meningkatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pukul 14.00 WIB, Minggu 27 September 2026, nilai ISPU tercatat 917 di Kabupaten Gunung Mas, 681 di Kotawaringin Timur, 660 di Barito Selatan, dan 302 di Palangka Raya (stasiun pemantau bergerak BPBD), yang masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Murung Raya tercatat 290 dan Kapuas 250, yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Kabut asap juga menurunkan jarak pandang. Pada pukul 15.00 WIB, jarak pandang tercatat 0,8 km di Palangka Raya, 0,7 km di Sampit, 1,8 km di Pangkalan Bun, 0,1 km di Buntok, dan 2 km di Muara Teweh.

Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker saat berada di luar rumah.

Perlindungan lebih perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Penanganan karhutla terus dilakukan BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah bersama Satgas Gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD kabupaten/kota, relawan, serta OPD Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Sebanyak 13.744 personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan api secara langsung sekaligus membatasi penjalarannya.

Berdasarkan data harian BPBPK per 27 September 2026, dalam 24 jam terakhir terdata 3.096 titik hotspot dan 70 kejadian karhutla dengan luas terbakar 288,46 hektare.

Masyarakat yang beraktivitas di perairan selatan Kalimantan Tengah juga diminta waspada karena, berdasarkan prakiraan mingguan BMKG, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,5 hingga 1,5 meter.

Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan setiap kejadian karhutla kepada petugas atau instansi terkait. (HERMAWAN DP/R)