PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mendorong keterlibatan pemerintah daerah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan musim kemarau panjang dan karhutla telah berdampak terhadap kualitas udara serta ketersediaan air bersih.

Karena itu, upaya pencegahan karhutla membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk masyarakat.

Agustiar turut mengingatkan pentingnya keberlanjutan pendidikan anak-anak di tengah kondisi yang dihadapi masyarakat.

Kondisi ekonomi maupun lingkungan tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk berhenti sekolah.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden mengatakan dampak kabut asap tidak hanya dirasakan terhadap kesehatan dan pernapasan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan belajar anak-anak, pekerjaan, hingga perekonomian.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak dengan sengaja membakar lahan atau hutan,” tegas Linae dalam keterangannya seperti dikutip Borneonews pada Senin, 28 September 2026.

Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila melihat atau mengetahui adanya tindakan pembakaran. Laporan bisa disampaikan kepada camat, kepolisian, atau pihak terkait agar dapat segera ditindaklanjuti.

Seperti diketahui Berdasarkan data harian BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah per Minggu, 27 September 2026, dalam 24 jam terakhir terdata total hotspot 3.096 titik, terdiri dari confidence rendah 19, menengah 2.969, dan tinggi 108. Tercatat pula 70 kejadian karhutla dengan total luas terbakar 288,46 hektare.

Wilayah dengan hotspot terbanyak adalah Kapuas (707), Pulang Pisau (562), dan Kotawaringin Timur (527). Luas terbakar terbesar ada di Kota Palangka Raya (155,21 Ha), disusul Barito Timur (62 Ha) dan Kapuas (22,70 Ha). (HERMAWAN DP/j)