BORNEONEWS, Palangka Raya – Program literasi finansial berbasis arisan produktif dan tutor sebaya di kawasan Puntun, Palangka Raya, didorong memiliki mekanisme pengelolaan dan keamanan dana yang jelas agar modal masyarakat tidak berisiko disalahgunakan atau salah kelola.
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya Khemal Nasery mengatakan peningkatan kemampuan mengatur keuangan perlu berjalan bersama pemahaman mengenai risiko, pencatatan transaksi serta pengelolaan modal usaha.
Menurutnya, pola arisan produktif dapat digunakan sebagai sarana membangun kebiasaan menabung sekaligus menghimpun modal usaha, namun mekanismenya perlu transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Program seperti ini bagus untuk membangun kemampuan masyarakat mengelola keuangan dan mendorong semangat berwirausaha. Tetapi keamanan keuangannya juga harus diperhatikan agar masyarakat merasa aman dalam menjalankan usaha,” kata Khemal, Senin, 28 September 2026.
Ia menilai peserta tidak cukup hanya memahami cara memperoleh modal. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, mencatat pemasukan serta pengeluaran, mengenali risiko usaha hingga mengembangkan keuntungan.
“Jangan hanya bagaimana mendapatkan modal, tetapi juga bagaimana modal itu aman, dikelola dengan baik, dan usaha bisa berkembang,” ujarnya.
Program berbasis tutor sebaya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman pengelolaan keuangan antarpeserta sehingga pembelajaran tidak berhenti pada materi yang diberikan saat kegiatan berlangsung.
Khemal mengatakan efektivitas program perlu dilihat melalui evaluasi terhadap penerapannya di masyarakat.
Apabila skema tersebut memberikan hasil yang terukur bagi warga Puntun, menurutnya pemerintah kota dapat mempertimbangkan model serupa untuk wilayah lain.
“Kalau hasilnya bagus, bisa menjadi contoh dan diterapkan Pemko di wilayah lain. Tetapi tentu harus melihat hasil, mekanisme, serta keamanan programnya terlebih dahulu,” katanya.
Ia menambahkan literasi finansial sebaiknya disertai pendampingan usaha agar pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.
Pendampingan tersebut juga dinilai penting untuk mengetahui kendala yang dihadapi peserta setelah mendapatkan modal maupun ketika mulai menjalankan usaha. (MARINI/j)








