BORNEONEWS, Banjarmasin – Keterbatasan air baku mulai berdampak langsung terhadap pelayanan air di Kota Banjarmasin. Sejumlah pelanggan di tiga kecamatan disebut menerima aliran air yang terasa asin selama musim kemarau.
Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Faisal Hariyadi mengatakan kondisi tersebut terjadi ketika sumber air baku dari Sungai Martapura mengalami peningkatan kadar garam sehingga pengolahan dan distribusi air bersih tidak dapat berjalan maksimal.
“Karena pada musim kemarau ini tempat pengambilan air baku di Sungai Martapura terkendala tingginya kadar garam, hingga distribusi air bersih ke masyarakat tidak maksimal,” kata Faisal, Senin, 28 September 2026.
Menurutnya, PT Air Minum Bandarmasih terpaksa tetap mendistribusikan air yang tidak sepenuhnya tawar ke sejumlah wilayah agar kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk mandi, mencuci dan keperluan sanitasi, tetap dapat terpenuhi.
“Bahkan informasinya tiga kecamatan yang dapat distribusi air terasa asin tersebut, karena dampak krisis air baku ini,” ujarnya.
Kondisi itu mulai dikeluhkan masyarakat karena kualitas air yang diterima berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Persoalan paling terasa terutama di kawasan yang berada di ujung jaringan perpipaan maupun wilayah pinggiran kota.
Krisis air baku Banjarmasin memang semakin terasa selama kemarau panjang. Pemerintah kota sebelumnya menyebut kadar garam pada sumber air baku Sungai Martapura sempat mencapai sekitar 8.000 miligram per liter, sehingga sumber tersebut tidak dapat diandalkan seperti kondisi normal.
Kondisi tersebut membuat produksi air bersih lebih bergantung pada sumber lain, termasuk intake Sungai Tabuk yang kapasitasnya terbatas untuk melayani seluruh pelanggan.
Faisal mengatakan persoalan itu telah disampaikan kepada Wali Kota Banjarmasin maupun jajaran PT Air Minum Bandarmasih.
Ia meminta pemerintah tidak hanya menangani persoalan distribusi saat krisis terjadi, tetapi mulai menyiapkan sumber air baku cadangan untuk menghadapi kemarau panjang berikutnya.
“Ini harus jadi atensi kita bersama ke depannya bagaimana mempersiapkan ketersediaan air baku saat kemarau panjang seperti ini,” ujarnya.
Pemerintah Kota Banjarmasin sebelumnya juga mengakui ketergantungan terhadap Sungai Martapura membuat pasokan air baku rentan terganggu ketika intrusi air laut meningkat saat kemarau. Pemkot dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan III telah membahas penguatan ketahanan sumber air baku sebagai langkah jangka panjang.
Dengan kondisi tersebut, penyediaan sumber air baku alternatif menjadi penting agar pelayanan air kepada masyarakat tidak kembali terganggu ketika kemarau berlangsung panjang.
ANTARA









