PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Karhutla yang terjadi di sejumlah sentra perkebunan sawit di Kalimantan dan Sumatera tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi menekan produksi tandan buah segar (TBS) dan pasokan crude palm oil (CPO) nasional pada Triwulan III hingga Triwulan IV 2026.

Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menjelaskan dampak terhadap CPO terutama terjadi melalui penurunan produktivitas tanaman sawit akibat suhu panas dan kekeringan yang menyertai karhutla.

“Karhutla memang tidak secara langsung mengurangi permintaan CPO. Dampak utamanya justru berada pada sisi produksi. Suhu panas dan kekurangan air dapat mengganggu produktivitas tanaman, sehingga produksi TBS menurun dan pada akhirnya bahan baku yang masuk ke pabrik kelapa sawit juga berkurang,” kata Rawing kepada Borneonews pada Senin, 28 September 2026.

Menurut dia, ketika pasokan TBS dari kebun menurun, terutama dalam kondisi kekeringan yang berlangsung cukup lama, maka produksi CPO yang dihasilkan pabrik juga berpotensi mengalami tekanan. Kondisi ini menjadi lebih rentan pada perkebunan sawit rakyat yang memiliki keterbatasan dalam penyiraman, pemupukan dan pemeliharaan tanaman.

Rawing memperkirakan dampak kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan produksi sawit rata-rata sekitar 20-25 persen pada Triwulan III 2026. Penurunan produksi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap ketersediaan CPO apabila kondisi kering berlangsung hingga memasuki Triwulan IV.

“Kalau produksi TBS turun, otomatis pasokan bahan baku ke pabrik ikut turun. Selanjutnya produksi CPO juga dapat mengalami penurunan. Jadi yang perlu diwaspadai adalah adanya tekanan terhadap pasokan CPO ketika permintaan tetap tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan CPO baik di pasar domestik maupun global diperkirakan tetap meningkat. Di dalam negeri, kebutuhan tersebut terutama didorong kebijakan biodiesel yang membutuhkan CPO sebagai bahan baku. Sementara pasar ekspor tetap memiliki sejumlah negara tujuan utama, antara lain India, Jepang dan China.

Kondisi tersebut menciptakan tantangan tersendiri bagi industri sawit. Jika produksi CPO mengalami tekanan sementara kebutuhan domestik dan ekspor tetap tinggi, maka keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan semakin ketat.

“Ini yang perlu menjadi perhatian. Permintaan CPO masih ada, bahkan cenderung meningkat, tetapi jangan sampai produksi kita terganggu akibat kekeringan yang berkepanjangan. Kalau pasokan TBS turun, produksi CPO ikut terdampak,” jelas Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan ini.

Meski demikian, Rawing berharap kondisi karhutla dan kekeringan dapat segera berakhir menyusul mulai turunnya hujan di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Hujan yang merata pada awal Oktober 2026 dinilai penting untuk membantu memulihkan kondisi tanaman dan menjaga produksi sawit pada periode berikutnya.

“Kalau awal Oktober hujan sudah merata di daerah-daerah penghasil sawit, kita optimistis kebutuhan CPO untuk pasar domestik maupun ekspor selama sisa 2026 dan memasuki 2027 masih dapat dipenuhi,” pungkas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini. (TESTI PRISCILLA/Y)