KUALA KURUN –

BORNEONEWS, Kuala Kurun - Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Gunung Mas Eigh Manto memaparkan dampak terjadinya musim kemarau yang terjadi di Bulan Juli - September 2026 bagi budidaya ikan di wilayah setempat.

"Dampak kemarau panjang yang melanda Kabupaten Gunung Mas sejak Juli hingga September 2026 mulai mengancam keberlangsungan sektor perikanan budidaya," kata Eigh Manto, Senin, 28 September 2026.

Dijelaskan, di Kecamatan Tewah, kondisi kritis menimpa sedikitnya lima kelompok pembudidaya ikan komoditas patin, nila, dan gurami. 

Ketersediaan debit air kolam yang menyusut drastis dari hari ke hari membuat para pembudidaya tidak memiliki pilihan lain selain melakukan panen dini.

Sementara itu, di wilayah Kuala Kurun dilakukan berbagai cara demi mempertahankan kualitas ikan budidaya. Beberapa pembudidaya sempat memanfaatkan layanan air PDAM untuk menambah pasokan air kolam. 

Namun kata Eigh Manto, cara ini dinilai kurang efektif dan berisiko tinggi. Kandungan bahan kimia pada air bersih tersebut tidak ramah bagi ekosistem ikan, sehingga penambahan air hanya bisa dilakukan dalam volume yang sangat terbatas.

"Pilihan lain yang diambil adalah menggunakan mesin pompa air untuk menyedot sisa-sisa air tanah atau sungai terdekat. Siasat ini diakui cukup membantu, tetapi hanya untuk skala kecil," jelasnya.

Penggunaan pompa air dinilai hanya efektif untuk mencukupi kebutuhan satu atau dua kolam berukuran kecil. 

Bagi peternak yang memiliki kolam dalam jumlah banyak dan area yang luas, metode pompa ini sama sekali tidak mampu mengejar laju penyusutan air akibat  kemarau.

Begitu pula yang terjadi di Desa Karya Bakti Kecamatan Rungan, para pembudidaya mengalami kesulitan air didalam mendukung kegiatan usaha budidaya. 

Eigh Manto menjelaskan, para pembudidaya ikan di Kabupaten Gunung Mas kebanyakan menggunakan kolam tanah dan kolam terpal sebagai sarana budidaya yang mana dalam pemenuhan kebutuhan airnya memanfaatkan sistem tadah hujan.

Eigh Manto berharap kondisi kemarau yang terjadi saat ini dapat segera berakhir sehingga ketersediaan air untuk kegiatan budidaya ikan kembali normal.

"Kami berharap hujan segera turun dan kondisi sumber air kembali normal, sehingga para pembudidaya ikan dapat kembali menjalankan usaha budidayanya dengan baik. Kami juga mengimbau para pembudidaya agar tetap melakukan langkah-langkah efisiensi penggunaan air dan menjaga kondisi ikan selama musim kemarau," ujar Eigh Manto. (RISKA YULYANA/H)