BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah memperingati Hari Aksara Internasional dengan mengangkat tema lingkungan melalui kegiatan bertajuk “Membaca Orang Utan, Mengenal Kalimantan: Dialog Literasi untuk Semesta Lestari” pada Selasa, 29 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk menghubungkan literasi dengan upaya mengenal dan menjaga lingkungan, khususnya keberadaan orang utan sebagai salah satu satwa khas Kalimantan.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Sukardi Gau membuka kegiatan melalui zoom meeting yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB tersebut.
Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang turut dihadirkan. Mereka adalah penulis buku Yussy Marie, konservator BOSF Hermansyah, serta seniman Borneo Art Play Abdul Khafidz. Diskusi dipandu moderator Indra Wahyu.
"Kehadiran penulis, konservator, dan seniman dalam satu forum menunjukkan pendekatan lintas bidang yang digunakan dalam kegiatan ini," kata Sukardi.
Literasi tidak hanya ditempatkan sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai sarana memahami lingkungan dan kehidupan di sekitar.
Orang utan menjadi salah satu fokus pembahasan karena keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kondisi hutan dan ekosistem Kalimantan.
"Melalui dialog literasi, peserta diajak mengenal orang utan tidak sekadar sebagai satwa, tetapi juga memahami keterkaitannya dengan kelestarian alam," tuturnya.
Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menggandeng sejumlah pihak dalam kegiatan tersebut, di antaranya Relawan Literasi Kalimantan Tengah, Forum Taman Bacaan Masyarakat Kalimantan Tengah, Borneo Art Play, BOSF, dan Rumah Baca Bahijau.
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini mengusung pesan “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”. Peserta juga disediakan sertifikat digital sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Melalui peringatan Hari Aksara Internasional tersebut, Balai Bahasa Kalteng menempatkan literasi sebagai pintu masuk untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan, pengalaman, seni, dan dialog diharapkan dapat memperluas cara pandang masyarakat dalam memahami Kalimantan dan menjaga keberlanjutan ekosistemnya.(TESTI PRISCILLA)









