PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Karhutla dan kekeringan yang melanda sejumlah daerah sentra perkebunan sawit di Kalimantan dan Sumatera mulai menjadi ancaman terhadap produksi crude palm oil atau CPO nasional pada Triwulan III hingga Triwulan IV 2026.

Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan dampak karhutla terhadap industri CPO terutama terjadi melalui terganggunya produktivitas tanaman kelapa sawit. Kondisi tersebut kemudian berpotensi mengurangi pasokan TBS sebagai bahan baku utama pabrik kelapa sawit.

“Sejak awal Triwulan II dan memasuki Triwulan III, bencana karhutla terjadi di daerah-daerah penghasil sawit, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Bahkan, beberapa wilayah saat ini lebih tepat disebut mengalami kemarau berat karena hampir dua bulan tidak turun hujan,” kata Rawing kepada Borneonews pada Selasa, 29 September 2026.

Menurut Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah ini, suhu panas yang tinggi dan

minimnya ketersediaan air memberikan tekanan terhadap tanaman sawit.

Dalam kondisi kekeringan berkepanjangan, proses pertumbuhan dan pembentukan buah dapat terganggu sehingga produktivitas TBS berpotensi menurun.

Dampaknya tidak berhenti di tingkat kebun. Ketika produksi TBS menurun, volume bahan baku yang masuk ke pabrik kelapa sawit ikut berkurang. Kondisi tersebut selanjutnya dapat menekan produksi CPO, terutama apabila kekeringan terjadi dalam waktu panjang dan meluas di sejumlah sentra produksi.

Rawing memperkirakan penurunan produksi sawit pada Triwulan III 2026 dapat mencapai rata-rata sekitar 20-25 persen akibat tekanan cuaca dan kekeringan. Kondisi tersebut dinilai paling berat dirasakan perkebunan sawit rakyat yang memiliki keterbatasan dalam pemeliharaan tanaman.

“Yang sangat terdampak terutama kebun-kebun kelapa sawit rakyat, karena pemeliharaan, penyiraman dan pemupukan sangat terbatas. Ketika air tidak tersedia dalam waktu cukup lama, tanaman akan mengalami tekanan dan produktivitasnya bisa ikut turun,” ujarnya.

Persoalannya, tekanan terhadap produksi tersebut terjadi ketika kebutuhan CPO justru tetap tinggi. Di pasar domestik, kebutuhan CPO terutama didorong kebijakan biodiesel. Sementara di pasar global, Indonesia masih memiliki pasar ekspor antara lain India, Jepang dan China.

Dengan demikian, karhutla tidak serta-merta membuat permintaan CPO turun. Sebaliknya, persoalan yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya tekanan pasokan ketika kebutuhan CPO di dalam negeri dan pasar ekspor tetap berjalan.

“Permintaan CPO di dalam negeri maupun luar negeri diperkirakan tetap meningkat, tetapi tidak diimbangi kenaikan produksi apabila kondisi kekeringan terus berlangsung. Ini yang harus kita antisipasi,” kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini lagi.

Menurut Rawing, kondisi tersebut masih dapat diperbaiki apabila hujan kembali turun secara merata di daerah sentra sawit Kalimantan dan Sumatera. Hujan dibutuhkan untuk memulihkan ketersediaan air dan membantu tanaman menghadapi tekanan akibat kekeringan.

“Kita berharap dalam beberapa hari ke depan bencana karhutla ini dapat berlalu. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera sudah mulai turun hujan. Kalau pada awal Oktober 2026 hujan sudah merata di daerah penghasil sawit, kita optimistis kebutuhan CPO dapat dipenuhi,” tuturnya.

Ia memperkirakan pemulihan kondisi cuaca akan menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan pasokan CPO pada sisa 2026 hingga 2027. Jika curah hujan kembali normal, tekanan terhadap produktivitas tanaman diharapkan berkurang sehingga produksi TBS dan CPO dapat kembali terjaga.

“Kalau hujan merata di Kalimantan dan Sumatera, kita optimistis kebutuhan CPO baik untuk dalam negeri maupun luar negeri selama sisa waktu 2026 dan tahun 2027 masih dapat dipenuhi,” pungkas Rawing.(TESTI PRISCILLA/R)