BORNEONEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Tengah tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa yang hidup di dalamnya, termasuk orangutan sebagai salah satu fauna khas Kalimantan.
Kondisi ini menjadi perhatian dalam dialog literasi yang digelar Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada Selasa, 29 September 2026.
Kegiatan bertajuk “Membaca Orang Utan, Mengenal Kalimantan: Dialog Literasi untuk Semesta Lestari” itu digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti sekitar 300 peserta.
Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar tingkat SD hingga SMA, mahasiswa, guru, komunitas baca, hingga masyarakat umum.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap 8 September.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Kepala Subbag Umum, Kambang mengatakan, tema dialog tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi alam Kalimantan Tengah, khususnya ketika kebakaran hutan dan lahan turut mengganggu kehidupan sosial masyarakat serta ekosistem.
Menurutnya, dampak karhutla tidak berhenti pada manusia. Kerusakan habitat juga membuat berbagai makhluk hidup di dalamnya menghadapi ancaman. Salah satunya orangutan yang bergantung pada hutan sebagai tempat hidup dan sumber makanan.
“Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis,” kata Kambang dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, memeriksa kebenarannya, berpikir kritis, beradaptasi terhadap perubahan, berkolaborasi, serta mengambil keputusan dan tindakan secara bertanggung jawab.
Karena itu, menurut Kambang, literasi lingkungan perlu dibangun melalui berbagai produk literasi, termasuk buku dan karya sastra.
Pengetahuan mengenai alam diharapkan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi berkembang menjadi kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Konservator BOSF Hermansyah dalam kegiatan tersebut memaparkan kondisi orangutan dari perspektif konservasi dan lapangan. Ia mengajak peserta memahami kehidupan orangutan serta interaksinya dengan manusia, sekaligus menjaga keberadaan satwa tersebut agar habitatnya tetap lestari.
Sementara itu, penulis buku Yussy Marie membahas proses kreatif dalam menghasilkan cerita mengenai orangutan. Ia menekankan pentingnya riset mendalam bagi penulis, antara lain melalui membaca buku, bertanya kepada ahli, dan berinteraksi langsung dengan objek yang ditulis.
Pelaku seni Abdul Khafidz Amrulla menyampaikan peran seni pertunjukan sebagai media literasi lingkungan.
Menurutnya, seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan habitat berbagai makhluk hidup.
Dalam sesi diskusi, antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan dan pendapat yang berkembang mengenai lingkungan, orangutan, dan literasi.
Diskusi ini mempertemukan perspektif konservasi, kepenulisan, dan seni dalam membahas persoalan lingkungan Kalimantan.
Pada akhirnya, kegiatan tersebut menegaskan bahwa buku bukan sekadar benda untuk dibaca. Buku dapat menjadi pintu masuk menuju pengetahuan, sementara pengetahuan diharapkan berkembang menjadi kesadaran, kepedulian, hingga tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan kehidupan di dalamnya.(TESTI PRISCILLA)









