PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menimbulkan kabut asap dinilai tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pariwisata di Kota Palangka Raya.

Wakil Ketua I Komisi III DPRD Palangka Raya, Dede Ardiansyah, mengatakan gangguan penerbangan akibat kabut asap dapat memengaruhi mobilitas masyarakat, termasuk wisatawan yang hendak berkunjung ke Palangka Raya.

Menurutnya, penerbangan merupakan salah satu akses penting bagi wisatawan dari luar daerah. Jika kondisi kabut asap menyebabkan penerbangan terganggu, maka rencana perjalanan wisatawan dapat ikut terdampak.

“Kalau penerbangan terganggu akibat kabut asap, tentu ini bisa berdampak pada kunjungan wisata ke Palangka Raya. Orang yang mau datang bisa berpikir ulang atau menunda perjalanannya,” kata Dede, Selasa, 29 September 2026.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor pariwisata berkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari jasa transportasi, penginapan, kuliner hingga pelaku usaha di destinasi wisata.

Dede meminta penanganan Karhutla terus diperkuat agar kualitas udara segera membaik dan aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Menurutnya, pengendalian Karhutla tidak hanya berkaitan dengan penanganan titik api, tetapi juga menjaga citra dan daya tarik Palangka Raya sebagai daerah tujuan kunjungan.

“Kalau asap terus terjadi dan penerbangan terganggu, dampaknya bisa ke banyak sektor. Karena itu, penanganan Karhutla harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia berharap, kondisi udara segera membaik sehingga akses penerbangan kembali normal dan aktivitas pariwisata di Palangka Raya tidak semakin terdampak. (MARINI/Y)