PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Akses terhadap informasi tidak selalu datang melalui pemberitaan. Buku dapat menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, termasuk bagi kelompok yang tidak terjangkau oleh berbagai saluran informasi.

Penulis buku Yussy Marie mengangkat hal tersebut dalam dialog literasi “Membaca Orangutan, Mengenal Kalimantan: Dialog Literasi untuk Semesta Lestari” yang digelar Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada Selasa, 29 September 2026.

Menurut Yussy, buku memiliki posisi penting karena dapat menjadi medium penyampaian informasi yang menjangkau kalangan masyarakat dengan karakter dan akses yang berbeda-beda.

Ia melihat masih ada kelompok masyarakat yang tidak memperoleh informasi melalui pemberitaan. Dalam kondisi tersebut, buku dapat menjadi alternatif untuk membuka akses terhadap pengetahuan.

“Ada kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan akses berita, tetapi bisa mendapatkannya melalui buku,” kata Yussy.

Menurutnya, buku tidak hanya berfungsi sebagai kumpulan tulisan. Di dalamnya dapat tersimpan berbagai informasi, pengalaman, pengetahuan maupun cerita yang memungkinkan pembaca mengenal persoalan yang sebelumnya jauh dari kehidupan mereka.

Karena itu, literasi juga berkaitan dengan keterbukaan akses. Pengetahuan tidak semestinya hanya beredar di kelompok tertentu atau melalui satu saluran informasi.

“Semua orang bisa membaca buku,” ujarnya.

Dalam konteks Kalimantan Tengah, buku dapat digunakan untuk memperkenalkan kekayaan alam dan persoalan lingkungan kepada masyarakat yang lebih luas. Orangutan, misalnya, dapat dikenalkan bukan hanya sebagai satwa, tetapi juga melalui cerita mengenai habitat dan kehidupan yang berkaitan dengannya.

Pendekatan melalui buku memungkinkan informasi mengenai lingkungan disampaikan dalam bentuk yang lebih beragam. Pembaca dapat memperoleh pengetahuan melalui cerita, pengalaman tokoh, ilustrasi maupun bentuk narasi lainnya.

Yussy menilai hal tersebut membuat buku memiliki peran dalam membangun literasi yang lebih inklusif. Semakin banyak kelompok masyarakat memperoleh akses terhadap pengetahuan, semakin terbuka pula kesempatan mereka untuk memahami lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan pesan Hari Aksara Internasional bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga menyangkut kemampuan memperoleh, memahami dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan. (TESTI PRISCILLA/Y)