BORNEONEWS, Sampit – Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut menjadi angin segar di tengah masih tingginya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Imam Subekti, mengatakan berdasarkan pemantauan dalam empat hari terakhir, jumlah hotspot mulai melandai.
“Alhamdulillah sampai hari ini hotspot kita empat hari terakhir ini turun, melandai. Mungkin laporan dari BMKG kita ini memang benar, jadi empat hari terakhir ini kita sudah melandai,” kata Imam, Selasa, 29 September 2026.
Meski demikian, ia menyebut pada hari ini kembali terjadi sedikit peningkatan hotspot. Karena itu, BPBD bersama tim di lapangan tetap melakukan penanganan dan pemantauan untuk mencegah api berkembang.
Di sisi lain, BPBD Kotim masih menghadapi kendala dalam pemenuhan sarana dan prasarana pemadaman. Menurut Imam, anggaran untuk pengadaan sebenarnya tersedia, begitu pula dengan rekanan. Namun, sejumlah peralatan yang dibutuhkan justru sulit diperoleh karena tingginya permintaan dari daerah lain.
“Rekanan kita ada, duitnya ada, barangnya yang tidak ada,” ujarnya.
Beberapa peralatan yang tengah diburu BPBD antara lain alkon, selang dan perlengkapan pendukung lainnya. Imam menyebut pihaknya bahkan harus berkeliling mencari toko yang masih memiliki stok.
Ia mencontohkan, beberapa hari lalu BPBD mendapatkan informasi adanya 50 selang yang tersedia. Namun saat petugas tiba di lokasi, tujuh selang sudah lebih dahulu dibeli pihak lain sehingga hanya tersisa 43 selang.
“Alhamdulillah 43 sudah kita bagikan, sisa delapan per hari ini,” jelasnya.
Untuk mendukung penanganan di wilayah Kecamatan Seranau, BPBD juga mempersilakan kebutuhan selang dan peralatan lainnya diambil langsung ke kantor BPBD. Penambahan peralatan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan barang.
Ia menegaskan, meski menghadapi keterbatasan peralatan, tim darat tetap bergerak bersama unsur terkait, termasuk kepolisian.
“Kita tetap tim darat, mungkin Pak Komando, Pak Kapolres juga ada di lapangan, kita terus bergerak,” katanya.
Ia berharap kondisi hotspot terus menurun sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal, termasuk penerbangan di Bandara H Asan Sampit yang terganggu penerbangannya karena asap dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. (DEVI/y)









