BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kondisi karhutla di Kabupaten Kapuas hingga akhir September 2026 masih berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Hal itu menjadi bagian dari evaluasi status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla yang digelar di BPBD Kapuas, Selasa, 29 September 2026.
Dari data Dinas Kesehatan diektahui, kualitas udara di Kapuas pada 29 September berada pada kategori sangat tidak sehat. Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 284 untuk parameter PM2.5.
Dari sisi kesehatan, tercatat 2.709 kasus ISPA sejak 16 Agustus hingga 28 September 2026. Pada 28 September saja terdapat 69 kasus baru yang dilaporkan dari seluruh 17 kecamatan. Selat menjadi wilayah dengan kasus harian tertinggi dengan 23 kasus, disusul Tamban Catur dan Basarang masing-masing enam kasus.
Sementara itu, perkembangan titik panas juga masih menjadi perhatian. Pada periode 20–26 September atau minggu ke-38, tercatat 2.240 hotspot, meningkat 36 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Evaluasi kesehatan menunjukkan hubungan yang kuat antara peningkatan hotspot dan kasus ISPA, termasuk dengan jeda waktu satu minggu.
Selain dampak terhadap udara dan kesehatan, penanganan karhutla di lapangan masih menghadapi sejumlah hambatan. Evaluasi mencatat petugas kesulitan mendapatkan sumber air serta menjangkau lokasi kebakaran karena tidak tersedia akses jalan, sementara kanal-kanal di sejumlah wilayah mulai surut.
Kondisi tersebut semakin berat pada lahan gambut yang membutuhkan waktu pemadaman lebih lama. Banyaknya kejadian karhutla, terutama di sekitar wilayah Kota Kuala Kapuas, juga membuat sebagian lokasi belum dapat tertangani secara bersamaan. (SABRIANOOR/y)









