KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Ancaman kekeringan dan karhutla di Kabupaten Kapuas masih perlu diwaspadai memasuki Oktober 2026. Dalam rapat evaluasi status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla, Kepala BPBD Kapuas Pangeran S. Pandiangan memaparkan prakiraan cuaca dan kondisi iklim yang menjadi salah satu bahan evaluasi penanganan karhutla.

Berdasarkan prakiraan BMKG Palangka Raya yang disampaikan dalam rapat, curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah pada Oktober 2026 secara umum diprediksi berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas karhutla masih tinggi hingga penghujung September.

“Curah hujan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah secara umum berada pada rendah, yaitu 0 sampai 100 milimeter,” kata Pangeran saat menyampaikan kondisi prakiraan Oktober.

Prakiraan tersebut berlangsung ketika jumlah hotspot di Kapuas masih tinggi. Data evaluasi mencatat total 29.183 hotspot sejak 1 Januari hingga 28 September 2026. Lonjakan terjadi pada Agustus dengan 14.798 hotspot dan September yang telah mencapai 13.799 hotspot hingga 28 September.

Kondisi udara juga menunjukkan dampak dari aktivitas kebakaran. Pada 29 September, ISPU Kapuas berada pada angka 284 untuk parameter PM2.5 dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Dari sisi kesehatan, akumulasi kasus ISPA sejak 16 Agustus sampai 28 September mencapai 2.709 kasus. Pada 28 September tercatat 69 kasus baru dari 17 kecamatan. Data evaluasi juga menunjukkan kasus ISPA masih berada di atas kondisi normal.

Dengan prakiraan curah hujan yang masih rendah, penanganan karhutla dan pemantauan kondisi udara menjadi bagian penting yang terus dilakukan. Dalam evaluasi, pemantauan ISPU dilakukan setiap hari oleh DLHK, sementara tim gabungan tetap menjalankan patroli, sosialisasi dan pemadaman di sejumlah wilayah. (SABRIANOOR/j)