SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Operasi helikopter water bombing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum dapat dilakukan secara maksimal akibat pekatnya kabut asap yang mengganggu jarak pandang.

Satu unit helikopter water bombing telah disiagakan di Bandara H Asan Sampit dalam beberapa hari terakhir untuk membantu penanganan karhutla, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau tim pemadam melalui jalur darat. Namun, kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi kendala dalam pengerahan helikopter.

"Karena per hari ini masih 800 meter, enggak feasible dia. Water bombing itu minimal 4.800 meter, minimal itu. Kalau di bawah itu, ya jelas enggak diizinkan sama menara," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Imam Subekti, Rabu, 30 September 2026.

Operasi water bombing tidak dapat dipaksakan ketika kondisi penerbangan belum memenuhi standar keselamatan. Kabut asap yang tebal membuat ruang gerak helikopter terbatas dan menyulitkan pelaksanaan operasi udara.

Sebelumnya, operasi water bombing telah dilakukan di kawasan Desa Rawa Sari, Kecamatan Pulau Hanaut, dan Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

Imam menjelaskan dukungan dari udara sangat diperlukan untuk menangani titik-titik karhutla yang sulit dijangkau pasukan darat, khususnya lokasi yang berada dekat sungai atau memiliki akses darat terbatas.

"Ya titik-titik yang memang dari sungai itu dekat, terus tim darat kesulitan," ujarnya.

Selain kendala jarak pandang, ketersediaan helikopter yang dapat bergerak ke Kotim juga masih terbatas. Dari rencana pengerahan dua unit helikopter, baru satu yang dapat disiagakan di wilayah Kotim.

Sementara itu, satu helikopter lainnya masih berada di Pangkalan Bun dan satu unit berada di Palangka Raya. Kondisi jarak pandang yang buruk juga membuat pergeseran helikopter dari daerah tersebut belum dapat dilakukan.

"Kita baru satu aja yang bisa, satunya masih di Pangkalan Bun. Satunya ada di Palangkaraya. Sama, mereka enggak bisa geser semua. Pangkalan Bun juga enggak bisa, Kotim enggak bisa, Palangka Raya juga enggak bisa," bebernya.

Dengan kondisi tersebut, penanganan karhutla untuk sementara tetap mengandalkan kekuatan tim di darat. Satgas Penanganan Karhutla Kotim terus bergerak melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi kebakaran.

Penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Kabupaten Kotim, TNI, Polri, Manggala Agni hingga unsur terkait lainnya.

Tim darat juga diarahkan menangani titik-titik yang masih memungkinkan dijangkau melalui jalur darat, sembari menunggu kondisi jarak pandang membaik sehingga operasi water bombing dapat kembali dilakukan dengan aman dan lebih optimal. (DEWI PATMALASARI/R)