BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat telah menangani 1.171 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 2.007,9 hektare hingga 28 September 2026.
"Berdasarkan data yang total dari keseluruhan hotspot sampai dengan tanggal 28 September 2026 ini berjumlah 38.304 titik hotspot-nya. Dan untuk kejadian sampai dengan saat ini adalah ada 1.171 kejadian dengan luas lahan terbakar kurang lebih 2.007,9 hektar," kata Bupati Kotim Halikinnor, Rabu, 30 September 2026.
Tingginya kejadian karhutla tahun ini tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang berlangsung lebih awal dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Halikinnor menyebut kondisi tersebut sebelumnya telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemerintah daerah pun telah mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla.
"Yang pertama, musim kemarau di provinsi datang lebih awal dan lebih panjang, dan ternyata memang lebih awal dan lebih panjang. Yang kedua, curah hujan di bawah kondisi normal, cenderung lebih kering," ujarnya.
Ia mengatakan hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir belum sepenuhnya menandai berakhirnya musim kemarau.
Sebagian hujan yang turun merupakan hasil modifikasi cuaca, sementara hujan alami dengan intensitas dan durasi yang cukup belum terjadi secara merata.
Halikinnor juga menyampaikan bahwa awal musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan berlangsung sejak awal Juli. Puncak musim kemarau sebelumnya diprediksi terjadi pada Agustus hingga September dan berpotensi berlanjut sampai Oktober.
"Yang ketiga, awal musim kemarau di provinsi dimulai dari awal bulan Juli, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus sampai September, dan kemungkinan sampai Oktober. Kemarin diperkirakan BMKG menyampaikan bahwa puncaknya Agustus-September. Ini sekarang Oktober belum terjadi hujan," katanya.
Kondisi cuaca panas dan kering tersebut membuat potensi munculnya titik api masih terjadi di sejumlah wilayah. Tim penanganan karhutla pun tetap disiagakan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.
Halikinnor mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam penanganan karhutla di Kotim, mulai dari TNI, Polri, aparatur sipil negara, masyarakat hingga para relawan.
"Saya atas nama pemerintah daerah mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak dan Ibu sekalian, dan juga terima kasih serta apresiasi dan bangga terhadap semua pihak, baik dari TNI, Polri, dan seluruh aparat sipil negara, dan juga masyarakat serta relawan yang mana kita selama ini, dari kemarin dan kita siaga selama kita melaksanakan pemadaman ini," tuturnya.
Ia mengatakan petugas terus bekerja di lapangan meski menghadapi kondisi cuaca yang masih panas. Bahkan, sejumlah personel harus melakukan pemadaman hingga siang dan malam untuk mencegah api meluas.
"Sampai hari ini, kita sudah berjibaku, bahkan anggota ada yang siang dan malam di lapangan. Tetapi sampai hari ini memang cuaca kita masih dalam kondisi yang panas, sehingga masih ada beberapa titik api yang muncul," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









