SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Jembatan di Jalan Kapten Mulyono, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang selama ini dikenal masyarakat sebagai jembatan patah, direncanakan dibangun permanen pada tahun depan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, tahapan pembangunan saat ini masih dalam proses perencanaan.

"Perencanaannya gitu. Biayanya ini masih dalam proses perencanaan ini. Kemarin FS-nya sudah kita laksanakan, kemudian ini kita sedang proses perencanaan untuk DED-nya," kata Mentana, Rabu, 30 September 2026.

Menurutnya, studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk pembangunan jembatan tersebut telah dilakukan. Pemkab Kotim kini melanjutkan tahapan dengan penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar teknis pembangunan.

Untuk kebutuhan anggaran, estimasi sementara pembangunan jembatan permanen tersebut berada di kisaran Rp7 miliar hingga Rp8 miliar. Namun, angka tersebut masih dapat berubah menyesuaikan hasil perencanaan serta perkembangan harga material.

"Perencanaan, kalau nilainya kisarannya saya belum bisa memastikan, tapi kurang lebih Rp7 sampai 8 miliaran. Saya enggak tahu nanti kalau ada kenaikan bahan, tetapi estimasi sementara ini. Kita masih nunggu Detail Engineering-nya. Nah, itu kurang lebih estimasinya 7 sampai 8 miliar," ujarnya.

Mentana menjelaskan, jembatan permanen yang direncanakan akan disesuaikan dengan standar tonase untuk jalan kabupaten. Kapasitas yang disiapkan diperkirakan mencapai 8 ton. "Tonasenya kita sesuaikan untuk jalan kabupaten itu 8 ton," katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa estimasi Rp7 miliar hingga Rp8 miliar tersebut merupakan kebutuhan awal untuk pembangunan jembatan beton permanen. "Jadi estimasi anggaran 7 sampai 8 miliar itu jembatan permanen," tegas Mentana.

Dengan pembangunan permanen tersebut, jembatan di Jalan Kapten Mulyono diharapkan dapat memiliki konstruksi yang lebih kuat dan mendukung mobilitas masyarakat serta kendaraan yang melintas di jalur tersebut. (DEWI PATMALASARI/R)