PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyelimuti Kota Palangka Raya tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi kualitas udara yang memburuk juga berpotensi menekan aktivitas perekonomian, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan kabut asap dapat mengganggu bahkan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Situasi itu kemudian berpengaruh terhadap kegiatan perdagangan dan usaha masyarakat.

"Kalau kabut asap ini terus terjadi, tentu aktivitas masyarakat di luar rumah berkurang. Dampaknya juga dirasakan oleh perdagangan dan pelaku UMKM," kata Rawing pada Rabu, 30 September 2026.

Dosen Ilmu Pertanian Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini mengatakan pelaku usaha yang mengandalkan aktivitas masyarakat secara langsung menjadi salah satu kelompok yang dapat merasakan dampak kondisi tersebut.

Masyarakat yang biasanya keluar rumah untuk berbelanja atau melakukan berbagai aktivitas lainnya cenderung memilih berada di dalam rumah ketika kabut asap semakin pekat.

Rawing menilai kondisi karhutla sebenarnya dapat diantisipasi lebih awal. Sebab, karhutla merupakan persoalan yang hampir setiap tahun terjadi di Kalimantan Tengah, terutama ketika memasuki musim kemarau.

"Kita semua, tidak hanya pemerintah, masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah saling bekerja sama agar ke depan itu jangan terjadi lagi hal-hal yang begini," katanya.

Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini berharap pemerintah dapat memperkuat langkah pencegahan dan penanganan sejak awal musim kemarau. Dengan demikian, dampak karhutla terhadap kesehatan sekaligus perekonomian masyarakat dapat ditekan.(TESTI PRISCILLA)