PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Upaya mengurangi risiko banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu, Sumatera Utara, diarahkan pada penguatan konservasi hutan dan penataan penggunaan lahan melalui pendekatan Nature-Based Solutions (NbS).

Pendekatan tersebut dikembangkan dalam penelitian kolaborasi internasional berjudul Nature-Based Solutions melalui Konservasi Hutan dan Optimasi Kesesuaian Lahan untuk Pengurangan Risiko Banjir Mendukung Pencapaian SDGs di DAS Wampu Sumatera Utara.

Ketua tim peneliti, Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D., mengatakan penelitian ini berangkat dari meningkatnya ancaman banjir yang berkaitan dengan perubahan iklim, degradasi hutan serta perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan.

Menurutnya, perubahan tersebut dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap air, meningkatkan limpasan permukaan dan sedimentasi sungai, sekaligus mengurangi kemampuan DAS dalam mengendalikan aliran air.

“Karena itu, kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memanfaatkan fungsi ekosistem sebagai bagian dari solusi untuk mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim,” kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Rabu, 30 September 2026.

Ia menjelaskan, penelitian di DAS Wampu dilakukan dengan pendekatan integratif yang memadukan penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG), Digital Elevation Model (DEM), analisis kesesuaian lahan, pemodelan risiko banjir serta Analytical Hierarchy Process (AHP).

Hasil dari berbagai analisis tersebut nantinya diarahkan untuk menghasilkan model NbS yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi konservasi hutan dan pemanfaatan lahan yang lebih sesuai untuk mengurangi risiko banjir.

“Lokasi penelitian berada di DAS Wampu. Desa Telaga juga termasuk bagian tengah DAS Wampu dan menjadi salah satu lokasi yang dikaji,” ujarnya.

Penelitian ini tidak hanya melibatkan akademisi, tetapi juga didampingi pegiat lingkungan Purnama Ginting serta melibatkan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut. Tim melibatkan mitra dari tiga perguruan tinggi luar negeri, yakni Universiti Putra Malaysia (UPM) di Serdang, Selangor, Malaysia; Ondokuz Mayis University (OMU), Turki; dan Vytautas Magnus University (VMU), Lithuania.

Dari UPM, kolaborasi melibatkan Prof. M Hasmadi Ismail dari Fakulti Perhutanan dan Alam Sekitar. Sementara dari OMU terdapat Prof. Mehmet Cetin dan dari VMU melibatkan Prof. Vitas Marozas.

Dari Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Rahmawaty bertindak sebagai ketua peneliti bersama Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.P., Dr. Ridahati Rambey, S.Hut., M.Si., Nur Ulina Warnisyah Sebayang, M.Agr., serta Dr. Suranto.

Prof Rahmawaty mengatakan penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti pada hasil akademik, tetapi menghasilkan keluaran yang dapat mendukung pengelolaan DAS secara berkelanjutan.

Luaran wajib penelitian berupa artikel pada jurnal internasional bereputasi Geocarto International yang masuk kategori Q1 serta bahan ajar digital yang terintegrasi dengan hasil penelitian. Sementara luaran tambahan berupa artikel pada prosiding internasional bereputasi The 2nd 2026 International Conference of Forestry and Environment (ICFE).

Menurutnya, penelitian ini juga memiliki keterkaitan langsung dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 tentang air bersih dan sanitasi, SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDGs 15 tentang ekosistem daratan, serta SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

“Penelitian ini merupakan upaya mengintegrasikan konservasi, pengelolaan lahan, pengurangan risiko bencana dan kolaborasi lintas negara dalam satu kerangka penelitian,” katanya lagi.

Prof Rahmawaty menyampaikan apresiasi kepada USU atas dukungan pendanaan penelitian, para mitra internasional, serta Forum DAS yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat pengembangan ilmu sekaligus menghasilkan pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan DAS dan pengurangan risiko banjir secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)