BORNEONEWS, Palangka Raya – Hujan yang merata pada awal Oktober 2026 dinilai menjadi salah satu penentu pemulihan produksi sawit di sejumlah daerah sentra perkebunan Kalimantan dan Sumatera.
Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan curah hujan sangat dibutuhkan setelah tanaman menghadapi periode kekeringan panjang.
“Kalau pada awal Oktober 2026 hujan sudah ada secara merata di setiap daerah penghasil sawit, baik Kalimantan maupun Sumatera, kita optimistis kebutuhan CPO dapat dipenuhi,” kata Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 30 September 2026.
Ia menjelaskan, kekeringan yang berlangsung cukup lama memberikan tekanan terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit.
Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap produksi TBS dan pasokan bahan baku ke pabrik kelapa sawit.
Rawing memperkirakan produksi sawit pada Triwulan III 2026 turun rata-rata sekitar 20-25 persen.
Namun, peluang pemulihan masih terbuka apabila kondisi cuaca membaik dan hujan kembali turun di daerah sentra produksi.
Menurut dia, pemulihan tersebut penting bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan CPO pada akhir 2026, tetapi juga menjaga kesinambungan produksi memasuki 2027.
Kebutuhan CPO diperkirakan tetap berasal dari pasar domestik maupun ekspor.
“Faktor pendorong utama kebutuhan dalam negeri adalah kebijakan biodiesel. Sedangkan untuk ekspor, pasar tujuan antara lain India, Jepang dan China,” ujarnya.
Karena itu, Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan ini berharap kondisi karhutla dan kekeringan segera berakhir sehingga produksi sawit dapat kembali terjaga. (TESTI PRISCILLA/j)









