BORNEONEWS, Palangka Raya – Pasokan crude palm oil atau CPO nasional berpotensi mengalami tekanan apabila karhutla dan kekeringan berkepanjangan terjadi di sejumlah sentra perkebunan sawit Kalimantan dan Sumatera.
Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan persoalan utama bukan pada permintaan CPO, tetapi kemampuan produksi memenuhi kebutuhan yang terus berjalan.
“Permintaan CPO di dalam negeri maupun luar negeri diperkirakan tetap meningkat. Tetapi kenaikan permintaan itu tidak diimbangi apabila produksi mengalami penurunan akibat kekeringan,” kata Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 30 September 2026.
Menurut dia, kekeringan menyebabkan tanaman mengalami tekanan sehingga produksi TBS dapat menurun.
Penurunan TBS kemudian mengurangi pasokan bahan baku ke pabrik dan berpotensi menekan volume produksi CPO.
Rawing memperkirakan produksi sawit pada Triwulan III 2026 turun rata-rata 20-25 persen.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan domestik tetap ditopang kebijakan biodiesel, sementara pasar ekspor antara lain India, Jepang dan China.
Kondisi inilah yang membuat perkembangan cuaca di sentra sawit menjadi penting bagi keseimbangan pasokan dan kebutuhan CPO.
Jika hujan kembali merata pada awal Oktober, peluang pemulihan produksi terbuka.
“Kita berharap dalam beberapa hari ke depan karhutla ini dapat berlalu. Kalau hujan sudah merata, kebutuhan CPO selama sisa 2026 dan 2027 optimistis masih dapat dipenuhi,” pungkas Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah ini. (TESTI PRISCILLA/j)









