JAKARTA –

BORNEONEWS, Moskow – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekitar 180 ribu orang di Yaman telah mengungsi dari 10 wilayah di tengah meningkatnya konflik dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur Kedaruratan WHO untuk Kawasan Mediterania Timur, Annette Heinzelmann, mengatakan gelombang pengungsian tersebut semakin menambah tekanan terhadap sistem kesehatan Yaman yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.

“Ini informasi yang kami terima, 180.000 orang dari 10 wilayah mengungsi,” kata Heinzelmann di Jenewa, Selasa, 29 September 2026.

WHO memperingatkan meningkatnya pertempuran membuat layanan kesehatan semakin terbebani, terutama akibat bertambahnya korban luka, kerusakan infrastruktur, perpindahan tenaga kesehatan, serta keterbatasan obat dan pasokan medis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan di Aden yang disampaikan WHO, jumlah korban sejak 6 Agustus 2026 mencapai 4.481 orang. Lebih dari 830 di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Tekanan terhadap fasilitas kesehatan juga semakin besar. Sejumlah layanan penting harus dikurangi atau dialihkan karena rumah sakit menghadapi peningkatan jumlah korban akibat konflik.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar, khususnya bagi ibu, bayi dan kelompok rentan lainnya.

Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 145 ribu orang telah mengungsi di delapan wilayah sejak eskalasi konflik di pesisir barat Yaman mulai meningkat pada Juni 2026. Sekitar 16 ribu orang di antaranya tercatat meninggalkan rumah dalam satu pekan terakhir.

Perbedaan angka WHO dan IOM mencerminkan perbedaan cakupan serta waktu pencatatan data pengungsian.

IOM sebelumnya juga mencatat bahwa hingga 21 September, lebih dari 132 ribu orang telah berpindah sejak konflik meningkat, dengan sebagian besar pengungsi terkonsentrasi di Taiz dan Lahj.

Eskalasi konflik turut meningkatkan risiko munculnya persoalan kesehatan lain. WHO memperingatkan kondisi pengungsian yang padat, keterbatasan air bersih serta sulitnya akses pelayanan kesehatan dapat meningkatkan penyebaran penyakit seperti kolera, campak dan demam berdarah.

Situasi kemanusiaan tersebut menjadi tantangan baru bagi Yaman yang telah menghadapi konflik berkepanjangan dan memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan.

WHO menyerukan dukungan kemanusiaan tambahan untuk menjaga layanan medis tetap berjalan sekaligus memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang terdampak pertempuran dan pengungsian.

ANTARA