BORNEONEWS, Jakarta – Indonesia dan China sepakat mempercepat persiapan perundingan Indonesia-China Comprehensive Economic Partnership Agreement (IDC-CEPA) sebagai upaya memperluas akses pasar sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dan investasi kedua negara.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuan bilateral antara Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi dengan Direktur Jenderal Perdagangan Internasional dan Urusan Ekonomi Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) Chen Chao di Beijing.
Edi mengatakan, kerja sama CEPA diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan China dengan mengedepankan prinsip saling melengkapi.
“Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia dan China untuk memperkuat hubungan ekonomi melalui CEPA. Kami ingin CEPA mengedepankan kerja sama yang saling melengkapi, bukan saling bersaing, sehingga manfaatnya dirasakan kedua belah pihak,” kata Edi dalam keterangannya, Rabu, 30 September 2026.
China saat ini menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia.
Sepanjang 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat mencapai 64,82 miliar dolar AS atau meningkat 7,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi investasi, China dan Hong Kong juga masuk dalam tiga besar sumber penanaman modal asing di Indonesia pada 2025.
Realisasi investasi dari China mencapai 7,5 miliar dolar AS, sedangkan Hong Kong sebesar 10,6 miliar dolar AS.
Meski hubungan perdagangan dan investasi kedua negara cukup kuat, Indonesia dan China hingga kini belum memiliki perjanjian perdagangan bilateral secara khusus.
Selama ini, hubungan perdagangan kedua negara berjalan melalui kerangka ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Pihak China menyambut positif rencana tersebut. Chen Chao menilai CEPA dapat memberikan manfaat lebih besar bagi pelaku usaha di kedua negara.
Indonesia dan China selanjutnya akan memetakan ruang lingkup kerja sama yang akan dimasukkan dalam perjanjian.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini. Kami juga akan melibatkan kamar dagang dan asosiasi usaha agar CEPA benar-benar menjawab kebutuhan dunia usaha,” ujar Edi.
Selain IDC-CEPA, kedua negara turut membahas pengembangan ekonomi hijau melalui Green Partnership Agreement for Development (GPAD).
Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperkuat perdagangan dan investasi hijau, terutama bagi negara berkembang.
“Bagi kami, implementasi adalah yang utama. Kerja sama ekonomi hijau tidak boleh berhenti di atas kertas, tetapi harus bisa dijalankan dan memberi nilai tambah,” katanya.
Indonesia dan China juga sepakat bahwa negara berkembang perlu mengambil peran lebih besar dalam penyusunan aturan dan standar ekonomi hijau di tingkat global.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia turut menyatakan dukungan terhadap World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO).
Perjanjian pendirian organisasi tersebut sebelumnya telah ditandatangani Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama negara-negara pendiri pada 16 Juli 2026.
Indonesia berkomitmen mempercepat proses ratifikasi perjanjian tersebut.
Keikutsertaan dalam WAICO diharapkan dapat mendukung perkembangan ekonomi digital Indonesia, terutama dalam pengembangan kecerdasan artifisial, talenta digital dan perluasan akses terhadap teknologi tinggi.
Kerja sama Indonesia dan China juga diarahkan pada peningkatan kapasitas aparatur sipil negara.
Pemerintah China berencana menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bagi ASN Indonesia di sejumlah sektor strategis, di antaranya kecerdasan artifisial, perdagangan digital, teknologi, negosiasi dan isu global.
Sebagai tindak lanjut, Kemenko Perekonomian akan mengusulkan Letter of Intent terkait kerja sama peningkatan kapasitas tersebut.
ANTARA









