BORNEONEWS, Langkat – Tim peneliti Universitas Sumatera Utara (USU) bersama mitra internasional melakukan kunjungan lapangan ke Desa Telagah, khususnya kawasan Telagah C dan Dusun Lau Lepar, Kabupaten Langkat, sebagai bagian dari penelitian kolaborasi internasional di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu.
Kegiatan tersebut dipimpin Prof Rahmawaty dari USU dengan melibatkan sejumlah peneliti, yakni Prof Abdul Rauf, Dr Ridahati Rambey, Nur Ulina Sebayang, M.Si, dan Dr Suranto.
Penelitian juga menggandeng mitra internasional, yakni Prof M Hasmadi Ismail dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof Mehmet Cetin dari Ondokuz Mayis University (OMU), serta Prof Vitas Marozas dari Vytautas Magnus University (VMU).
Selain tim peneliti, kegiatan turut melibatkan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Prof Rahmawaty menjelaskan, Desa Telagah termasuk dalam bagian tengah DAS Wampu dan memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dari sisi pertanian, kehutanan, hasil hutan bukan kayu, hingga ekowisata berbasis masyarakat.
“Desa Telagah memiliki potensi sumber daya alam dan kearifan lokal yang cukup kuat. Karena itu, pengembangannya perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melihat aspek ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat,” kata Rahmawaty, Rabu, 30 September 2026.
Ia mengatakan, hasil kunjungan lapangan menunjukkan masyarakat Dusun Lau Lepar masih sangat bergantung pada komoditas aren.
Sekitar 80 persen sumber pendapatan masyarakat diperkirakan berasal dari aren, sedangkan sisanya berasal dari kecombrang dan sejumlah hasil pertanian lainnya.
Produksi gula aren di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 500 hingga 700 kilogram per minggu.
Selain aren, masyarakat juga mengembangkan kelapa, durian, jengkol, petai, duku, kecombrang dan berbagai komoditas pertanian lainnya.
“Potensi aren di kawasan ini sangat besar dan sudah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah, memperbaiki akses, dan memastikan hasil produksi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Rahmawaty.
Luas kawasan yang dikelola masyarakat pada 2025 diperkirakan mencapai 200 hingga 300 hektare dan telah dikelola secara turun-temurun.
Tim peneliti juga mencatat masih terdapat sejumlah kebutuhan mendasar yang perlu mendapat perhatian, terutama akses jalan menuju kawasan.
Sekitar 150 meter jalan telah dicor melalui gotong royong masyarakat dengan kebutuhan kurang lebih 2.000 sak semen. Namun, kondisi akses secara keseluruhan masih menjadi kendala utama.
“Dari hasil diskusi, masyarakat menempatkan perbaikan jalan sebagai kebutuhan paling mendesak. Akses yang baik akan berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga, pengangkutan hasil pertanian, hingga peluang pengembangan ekowisata,” katanya.
Selain infrastruktur, pengembangan komoditas alternatif juga menjadi perhatian.
Masyarakat saat ini menghadapi permasalahan penyakit pada tanaman jahe yang belum mendapatkan solusi efektif. Salah satu alternatif yang didorong adalah pengembangan tanaman kapulaga.
“Pengembangan bibit kapulaga menjadi salah satu target yang muncul dari hasil pertemuan dengan masyarakat. Namun, penanaman harus dibarengi dengan pemeliharaan agar hasilnya benar-benar optimal,” jelas Rahmawaty.
Tim juga melihat potensi Sungai Sei Bingai dan konsep lubuk larangan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari konservasi sumber daya perairan sekaligus ekowisata berbasis masyarakat.
Wilayah tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kawasan Hutan Produksi Terbatas dan berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser.
Rahmawaty menilai kondisi tersebut membuat perencanaan pengembangan kawasan perlu dilakukan secara hati-hati dan tetap memperhatikan aspek kelestarian.
“Penelitian ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan data akademik, tetapi juga diharapkan memberi rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam pengembangan ekonomi lokal, konservasi, dan pengelolaan DAS Wampu secara berkelanjutan,” pungkasnya. (*/j)









