PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Medan – Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan penelitian kolaborasi internasional di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu, Sumatera Utara, dengan mengusung pendekatan Nature-Based Solutions (NbS) berbasis konservasi hutan dan kesesuaian lahan.

Penelitian lintas disiplin tersebut dipusatkan di Desa Telaga yang berada di bagian tengah DAS Wampu.

Ketua tim peneliti, Prof Dr Rahmawaty, mengatakan kajian dilakukan untuk melihat kondisi sumber daya alam, tutupan dan fungsi hutan, karakteristik lahan, serta kesesuaian pemanfaatan lahan dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial masyarakat.

“Pendekatan Nature-Based Solutions kami arahkan untuk memperkuat fungsi alami ekosistem. Konservasi hutan dan kesesuaian lahan menjadi bagian penting karena keduanya sangat berkaitan dengan tata air, erosi, sedimentasi, keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat di DAS Wampu,” kata Rahmawaty, Rabu, 9 September 2026.

Penelitian tersebut melibatkan sejumlah akademisi USU, yakni Prof Abdul Rauf, Dr Ridahati, Nurulina Sebayang, M.Si., dan Dr Suranto.

Kolaborasi juga menggandeng mitra akademik dari tiga negara. Mereka adalah Prof M Hasmadi dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof Dr Mehmet Cetin dari Ondokuz Maz1s University (OMU), Turki, serta Prof Dr Vitas Marozas dari Vytautas Magnus University (VMU), Lithuania.

Rahmawaty menjelaskan konservasi hutan menjadi salah satu fokus utama karena memiliki fungsi penting dalam menjaga tata air, menekan erosi dan sedimentasi, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan ketahanan ekosistem DAS.

Selain itu, tim juga melakukan kajian kesesuaian lahan untuk menentukan pola pemanfaatan yang sejalan dengan karakteristik dan kemampuan lahan.

“Informasi kesesuaian lahan sangat penting agar pemanfaatan ruang tidak justru meningkatkan risiko degradasi lingkungan. Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar ilmiah untuk mendorong pengelolaan DAS yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Penelitian memadukan pendekatan konservasi hutan, analisis kesesuaian lahan, teknologi geospasial dan konsep Nature-Based Solutions.

Integrasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi dengan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat.

Kegiatan penelitian juga melibatkan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Mahasiswa memperoleh kesempatan terlibat langsung dalam pengumpulan data, observasi lapangan, analisis lingkungan hingga penerapan berbagai metode penelitian.

Menurut Rahmawaty, keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting karena penelitian tidak hanya diarahkan menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar berbasis persoalan nyata di lapangan.

“Mahasiswa dapat belajar langsung bagaimana teori, data dan kondisi masyarakat saling berkaitan. Ini penting agar riset tidak berhenti di kampus, tetapi benar-benar memiliki dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.

Kolaborasi dengan UPM, OMU dan VMU juga membuka peluang pengembangan kerja sama lanjutan dalam bentuk penelitian bersama, publikasi internasional, pengembangan inovasi, pertukaran mahasiswa dan akademisi hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi USU, penelitian berbasis DAS tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat konsep research with impact melalui integrasi antara keunggulan akademik, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pengalaman belajar mahasiswa.

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu dasar ilmiah dalam merumuskan strategi pengelolaan DAS Wampu yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Penelitian tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama yang berkaitan dengan air bersih, aksi iklim, ekosistem daratan dan pembangunan berkelanjutan. (*/j)