BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Khemal Nasery, mengingatkan Pemerintah Kota (Pemko) agar mewaspadai potensi lonjakan harga cabai di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda wilayah setempat.
Menurut Khemal, kondisi cuaca yang kering berkepanjangan dapat memengaruhi produksi tanaman hortikultura, termasuk cabai. Jika pasokan dari petani menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.
“Kita perlu mewaspadai dampak kemarau panjang terhadap produksi cabai. Jangan sampai ketika pasokan berkurang, harga langsung melonjak dan masyarakat yang akhirnya terbebani,” kata Khemal, Rabu, 30 September 2026.
Ia meminta perangkat daerah terkait melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan perkembangan harga cabai di pasar. Langkah tersebut penting untuk mengetahui lebih awal apabila mulai terjadi gangguan pasokan.
Selain itu, Khemal mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama instansi terkait memperkuat pendampingan kepada petani, terutama dalam menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau. Dukungan teknis diperlukan agar produksi tetap dapat dipertahankan.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhatikan jalur distribusi komoditas dari daerah penghasil menuju Palangka Raya. Kelancaran distribusi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan cabai di pasaran.
Khemal berharap langkah antisipasi dilakukan sejak awal, bukan setelah harga mengalami kenaikan signifikan. Pengendalian pasokan dan pemantauan harga secara berkala dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
"Kondisi kemarau panjang harus menjadi perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan pertanian, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat," tambahnya. (MARINI/H)









