SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kabut asap yang menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar perkotaan.

Asap dari karhutla di wilayah selatan Kotim turut terbawa angin menuju Sampit. Kondisi angin yang kemudian melemah membuat asap tersebut tertahan di kawasan perkotaan.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan asap karhutla.

Dalam beberapa hari terakhir, angin di Kotim lebih banyak bergerak dari timur, tenggara dan selatan menuju barat hingga utara. Pola tersebut memungkinkan asap dari titik karhutla di wilayah selatan bergerak ke arah Sampit.

"Secara garis besar, arah angin yang sekarang itu dominannya dari arah timur, tenggara dan selatan, menuju barat hingga utara. Jadi ketika ada potensi titik hotspot yang menghasilkan asap di selatan Kotim, itu sebagian besar berpotensi akan mengarah ke Kota Sampit," kata Mulyono, Rabu, 30 September 2026.

Setelah mencapai wilayah Sampit, asap tidak langsung terbawa menjauh. Kecepatan angin yang relatif rendah membuat konsentrasi asap bertahan lebih lama di Sampit.

Mulyono menjelaskan, kondisi angin pada malam hari masih cukup membantu membawa asap dari wilayah selatan menuju perkotaan. Namun, ketika memasuki pagi hingga siang, angin cenderung lebih landai sehingga asap yang sudah berada di kota tertahan.

"Karena berapa hari ini asap-asap kiriman yang dari selatan itu dia terbawa angin karena cukup kencang ketika malam hari. Terus ketika pagi dan siang harinya anginnya lebih cenderung lebih kalem atau lebih landai. Jadi dia akan terkukung atau terkurung di kota," ujarnya.

Kondisi tersebut terlihat pada Rabu, 30 September 2026. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit.

Data BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menunjukkan jarak pandang sejak pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB hanya berada pada kisaran 600 hingga 900 meter.

Menurut Mulyono, rendahnya kecepatan angin turut berkaitan dengan posisi matahari yang saat ini berada di sekitar wilayah ekuator. Kondisi tersebut membuat pola angin di kawasan Kotim cenderung lebih lemah.

Ia menjelaskan, angin dengan kecepatan rata-rata di atas 15 kilometer per jam berpotensi membantu mengangkut asap menjauh dari kawasan Sampit. Sebaliknya, angin yang hanya bergerak beberapa kilometer per jam belum cukup kuat untuk membersihkan asap dari wilayah perkotaan.

"Kalau dilihat dari rata-ratanya itu anginnya di atas 15 kilometer per jam, itu kemungkinan besar bisa membawa asap-asap. Tapi kalau landai ini mungkin dia 0 sampai 5 atau 6 kilometer per jam. Itu tidak terlalu signifikan," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)