SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih pekat menyelimuti Kota Sampit membuat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengevaluasi pola pemadaman. Bupati Kotim Halikinnor meminta penanganan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi dilanjutkan dengan pendinginan hingga titik karhutla benar-benar tuntas.

"Kita meng-evaluasi apakah teknik atau cara yang kita lakukan untuk pemadaman ini sudah efektif, efisien tidak, dengan hasil yang kita peroleh. Karena kita melihat ternyata asap di daerah kota ini masih ada," kata Halikinnor, Kamis, 1 Oktober 2026.

Ia menyebut kondisi Bandara H Asan Sampit dan aktivitas pembelajaran di sekolah menjadi salah satu barometer untuk melihat dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat.

Penerbangan dapat kembali berjalan ketika jarak pandang memenuhi syarat keselamatan. Begitu pula kegiatan belajar tatap muka dapat berlangsung ketika kualitas udara memungkinkan.

"Karena saya tadi menyampaikan bahwa barometer kita itu bandara bisa didarati pesawat, anak-anak bisa tatap muka belajar, itu jadi barometer. Sehingga yang lain bisa bergerak," ujarnya.

Halikinnor menyampaikan, berdasarkan laporan para camat, kondisi di wilayah utara Kotim relatif aman. Persoalan asap justru masih berkaitan dengan wilayah selatan.

Hasil evaluasi pemerintah daerah menunjukkan arah angin turut memengaruhi sebaran asap menuju Kota Sampit. Sejumlah wilayah selatan yang masih menghadapi karhutla di antaranya Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit.

"Mayoritas utara aman, yang persoalan kita ini daerah selatan. Ternyata memang angin itu dari arah timur. Timur itu posisi kita daerah selatan. Berarti asap yang ada ini sebagian besar adalah kiriman dari yang terjadi di Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan maupun Teluk Sampit ada sedikit-sedikit," jelasnya.

Dengan mengetahui arah pergerakan asap tersebut, pemerintah daerah akan mengarahkan upaya pemadaman lebih kuat ke wilayah selatan.

Selain itu, Halikinnor menilai salah satu persoalan dalam penanganan karhutla selama ini adalah api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar selesai. Ketika titik baru kembali muncul, tim pemadam harus bergerak lagi sehingga penanganan menjadi berulang.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendinginan setelah api berhasil dipadamkan. Terutama pada lahan yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

"Kita juga tadi bagaimana selama ini permasalahan kita kenapa asap masih ada, karena kita sebatas memadamkan apinya, begitu ada di sana muncul lagi, tim pemadam ini ke sana lagi. Sementara di sini ini baru selesai padam, menyalanya. Bukan apinya padam, makanya perlu konsentrasi dengan bagaimana itu pendinginan sampai betul-betul padam," katanya.

Untuk mendukung strategi tersebut, kebutuhan air menjadi perhatian utama. Pemerintah daerah akan memperkuat peralatan penyediaan dan distribusi air di lokasi karhutla.

Halikinnor mengatakan penambahan mesin alkon dan embung diperlukan agar suplai air ke lokasi kebakaran tetap tersedia. Sistem distribusi air juga akan diatur berdasarkan waktu, termasuk memperkuat penyuplaian pada malam hari ketika kondisi angin lebih kuat.

"Dan itu membutuhkan air yang banyak. Berarti kebutuhan kita harus mesin alkon tambah lagi, embungnya tambah lagi, sehingga persiapan suplai air ini cukup. Termasuk kalau malam anginnya kuat, tambah banyak, lalu kita arahkan yang shift penyuplai air ini dibagi antara malam dengan siang," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)