SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Intrusi air laut mulai mengancam sumber air baku di wilayah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur seiring kemarau panjang yang menyebabkan pasokan air tawar semakin berkurang.

Pemerintah Kabupaten Kotim menyiapkan opsi teknologi pengolahan air untuk mengantisipasi kondisi tersebut meluas.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan kondisi air baku yang mulai terpengaruh salinitas menjadi perhatian serius karena sumber air Perumdam Tirta Mentaya menopang kebutuhan masyarakat di sejumlah kawasan.

Ia meminta Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan teknologi yang memungkinkan air dengan kadar garam tinggi tetap dapat diolah sehingga memenuhi standar untuk dikonsumsi masyarakat.

"Makanya kita sudah meminta Direktur PDAM apa tekniknya untuk bisa tetap dikonsumsi. Makanya katanya itu ke depan kita sekarang PDAM sudah sampai Parenggean sebenarnya," kata Halikinnor, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, pemerintah daerah juga memiliki rencana memperluas jaringan pelayanan air bersih hingga kawasan selatan Kotim. Rencana tersebut bahkan diarahkan sampai Ujung Pandaran dan Pulau Hanaut dengan pembangunan pipa bawah laut.

Namun, persoalan sumber air baku menjadi tantangan ketika intrusi air laut semakin jauh masuk ke wilayah perairan dan sumber air tawar.

"Saya ingin sampai Ujung Pandaran, sampai Pulau Hanaut nanti lewat pipa bawah laut. Itu ternyata air sumber bahan bakunya ini yang jadi asin. Itu ada teknologi, ada alat," ujarnya.

Halikinnor meminta Perumdam menghitung kebutuhan anggaran untuk pengadaan peralatan pengolahan air tersebut. Menurutnya, investasi teknologi diperlukan agar pelayanan air bersih tetap dapat berjalan meskipun terjadi kemarau panjang.

"Makanya saya minta PDAM tolong berapa harga alat itu nanti kita beli, sehingga mau kemarau mau apa pun, kita tetap bisa mengatasi itu," tegasnya.

Sebelumnya, Perumdam Tirta Mentaya menyatakan air PDAM di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tidak disarankan untuk dikonsumsi setelah kadar salinitas mencapai sekitar 700.

Direktur Perumdam Tirta Mentaya Ismanadi mengatakan peningkatan kadar garam telah berlangsung lebih dari sepekan. Kondisi tersebut dipicu minimnya hujan yang membuat volume air tawar menurun sehingga pengaruh air laut semakin kuat.

"Kalau di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sudah 700-an. Itu sudah tidak bisa dikonsumsi," kata Ismanadi, Rabu, 30 September 2026.

Sumber air baku di kawasan Ketapang juga dipengaruhi pasang surut. Ketika pasokan air tawar berkurang akibat kemarau, air laut lebih mudah memengaruhi sumber air baku.

Perumdam kemudian mengimbau masyarakat tidak menggunakan air produksi pada wilayah dengan tingkat salinitas tinggi untuk minum dan memasak.

"Untuk wilayah produksi mulai dari Pulau Lepeh, Pelangsian sampai Ketapang, itu tidak kami sarankan untuk dikonsumsi. Kecuali wilayah Baamang karena mengambil dari Tanah Mas," ujarnya.

Meski demikian, produksi dan distribusi air tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk mandi, mencuci dan kakus (MCK).

"Kita berpikir kalau kita stop produksi, kita makin bermasalah. Ada kemungkinan bisa sampai chaos karena masyarakat butuh air juga. Jadi, sementara tetap kita jalankan. Kami hanya menyampaikan agar tidak mengonsumsi," jelas Ismanadi.

Untuk kebutuhan minum, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan menggunakan air minum dalam kemasan atau air galon isi ulang yang memenuhi persyaratan kualitas. (DEWI PATMALASARI/R)