SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) berencana melanjutkan pembangunan drainase Jalan Tjilik Riwut, Sampit, hingga Simpang Pramuka. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sistem pengendalian banjir di kawasan perkotaan.

"Karena itu memang program strategis sesuai visi misi Bupati bahwa pengendalian banjir. Ini lebih kita fokuskan pengendalian banjirnya. Jadi kita drainase itu akan kita lanjutkan," kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, perencanaan lanjutan drainase Jalan Tjilik Riwut diarahkan hingga Jalan Pramuka. Penanganan tersebut tidak hanya mencakup saluran air, tetapi juga peningkatan kondisi jalan agar sistem drainase dapat berfungsi secara optimal.

"Drainase Jalan Tjilik Riwut perencanaannya sampai di Jalan Pramuka dikerjakan peningkatan jalan dan drainasenya," ujarnya.

Namun pelaksanaan pekerjaan lanjutan tetap akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Pemerintah juga akan mempertimbangkan kebutuhan penanganan drainase di ruas Jalan DI Panjaitan.

"Nanti kita lanjutannya bagaimana, ya kita tentunya melihat situasi dan kondisi keuangan daerah. Baik pembangunan drainase Jalan Tjilik Riwut maupun DI Panjaitan," jelasnya.

Saat ini peningkatan drainase dan badan Jalan Tjilik Riwut masih berlangsung sepanjang 675 meter. Pekerjaan tersebut tidak hanya bertujuan memperbaiki saluran air, tetapi juga menyesuaikan elevasi jalan untuk mengurangi risiko genangan.

Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bagus Anugrah Nusantara menjelaskan pekerjaan yang dimulai sejak 10 Juli 2026 tersebut memiliki masa kontrak hingga 7 Desember 2026.

Penanganan Jalan Tjilik Riwut tahun ini mencakup dua pekerjaan, yakni pembangunan drainase dan peningkatan badan jalan. Fokus utama pekerjaan berada pada sistem drainase.

Bagus menjelaskan peningkatan jalan diperlukan karena perbaikan saluran tanpa penyesuaian elevasi badan jalan dinilai tidak cukup untuk mengatasi genangan.

"Secara teknis, drainase kalau tidak diimbangi dengan peningkatan jalan akan kalah. Nanti malah tetap banjir. Jadi setelah kita telaah, Jalan Tjilik Riwut memang memerlukan leveling ulang," imbuhnya.

Saluran yang digunakan dalam proyek tersebut menggunakan konstruksi precast. Saluran terlebih dahulu dicetak sebelum dipasang pada lokasi pekerjaan.

"Jadi sistemnya precast, nanti tinggal dipasang-pasang di tempat. Sementara dari tanggal 10 Juli sampai Agustus ini mereka mencetak salurannya," ujarnya.

Sambil proses pencetakan berlangsung, pelaksana melakukan peningkatan badan jalan menggunakan metode Cement Treated Recycling Base (CTRB).

Anggaran pekerjaan mencapai sekitar Rp7,5 miliar. Dengan pagu tersebut, penanganan difokuskan pada pembangunan drainase dan peningkatan jalan sepanjang sekitar 675 meter pada satu sisi ruas jalan.

Kawasan Jalan Tjilik Riwut menjadi salah satu titik yang ditangani karena terdapat persoalan aliran air yang membutuhkan sistem drainase lebih baik.

Air dari kawasan tersebut nantinya diarahkan melalui dua jalur saluran. Salah satunya menuju saluran di kawasan Bumi Raya, sedangkan jalur lainnya mengarah ke kawasan sungai di sekitar bengkel.

"Jadi sebenarnya fungsi utama drainase. Cuma setelah kita kaji secara teknis, kalau drainasenya saja kita buat, nanti jalannya tetap akan banjir," kata Bagus.

Karena itu, pembangunan saluran dan peningkatan badan jalan dilakukan secara beriringan. Penyesuaian elevasi jalan diharapkan membuat aliran air dapat bekerja lebih efektif dan mengurangi potensi genangan.

Pada tahap berikutnya, saluran drainase juga direncanakan menggunakan konstruksi penutup dengan elevasi rendah. Hal tersebut disiapkan agar saluran tetap berfungsi sekaligus tidak menghambat mobilitas kendaraan maupun aktivitas masyarakat di sepanjang Jalan Tjilik Riwut. (DEWI PATMALASARI/R)