BORNEONEWS, Palangka Raya – Harga pangan menjadi tekanan utama terhadap inflasi Kalimantan Tengah pada September 2026. Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil paling besar terhadap inflasi tahunan Kalteng.
Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi September 2026 secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) mencapai 5,02 persen. Angka tersebut terbentuk setelah Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 pada September 2026.
Dari 11 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi secara tahunan.
"Namun kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 7,50 persen dan andil mencapai 2,91 poin," kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman dalam penyampaian berita resmi statistik pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Tekanan tersebut tercermin dari sejumlah komoditas pangan yang menjadi penyumbang dominan inflasi. Di antaranya beras, ikan nila, cabai rawit, minyak goreng, ikan patin, terong, ketimun, kacang panjang, semangka, ikan kapar dan ikan bakar.
"Selain pangan, kenaikan harga juga dipengaruhi komoditas energi dan transportasi. Bensin, solar, bahan bakar rumah tangga serta pelumas/oli mesin masuk dalam daftar komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi tahunan," katanya.
Komoditas emas perhiasan juga tercatat sebagai salah satu penyumbang dominan inflasi y-on-y. Sementara dari kelompok tembakau, sigaret kretek mesin dan sigaret kretek tangan turut memberikan tekanan terhadap kenaikan harga.
Jika dilihat secara bulanan, tekanan harga pada September bahkan semakin terlihat pada komoditas pangan.
"Inflasi Kalteng tercatat 0,40 persen m-to-m, dengan ikan nila, cabai rawit, ketimun, kacang panjang, beras, terong, ikan patin, kangkung dan tomat menjadi sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil inflasi," terangnya.
Komoditas energi juga ikut masuk dalam daftar pendorong inflasi bulanan, terutama solar dan bahan bakar rumah tangga. Sementara dari kelompok pendidikan, akademi/perguruan tinggi turut memberikan andil terhadap inflasi September.
Namun, tekanan harga tersebut tidak terjadi pada seluruh komoditas. Sejumlah harga justru mengalami penurunan dan memberikan andil deflasi. Secara tahunan, komoditas tersebut antara lain daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, angkutan udara, bawang putih dan udang basah.
"Untuk periode bulanan, penahan inflasi antara lain daging ayam ras, angkutan udara, bawang merah, ikan gabus, bawang putih, anggur dan minyak goreng," tutur Taufiqurrahman lagi.
Secara kumulatif sepanjang Januari-September 2026, inflasi Kalteng mencapai 3,21 persen. Sementara secara bulanan, kenaikan harga September tercatat 0,40 persen. (TESTI PRISCILLA/j)









