BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor menanggapi kondisi Eks Pasar Mentaya di Jalan A Yani Sampit yang terbengkalai dan dimanfaatkan sebagai lokasi tindak kejahatan.
Bangunan yang merupakan aset pemerintah daerah tersebut, khususnya lantai dua, diketahui tidak dimanfaatkan. Kondisi itu menjadi perhatian setelah muncul pengakuan seorang perempuan tunawisma berinisial RA yang mengaku mengalami rudapaksa saat tidur di lantai dua Eks Pasar Mentaya.
Halikinnor mengatakan telah meminta jajaran terkait mengecek kondisi bangunan tersebut dan melakukan pembersihan untuk mencegah munculnya persoalan sosial maupun gangguan keamanan.
"Kalau itu nanti ku suruh Satpol PP mengeceknya. Nanti Pak Sekda ya, cek ke Satpol PP karena kemarin anak punk juga ribut. Jadi nanti coba nanti biar Dinas Sosial dengan Satpol PP. Saya sudah perintahkan juga untuk membersihkan itu," kata Halikinnor, Kamis, 1 Oktober 2026.
Sebelumnya, penertiban penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) oleh Satpol PP Kotim mengungkap kondisi RA yang ditemukan dalam kondisi diduga hamil.
RA telah tiga kali diamankan dalam kegiatan penertiban. Saat diamankan di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, petugas melakukan tes kehamilan dan menemukan hasil dua garis meski salah satunya samar.
Dalam asesmen, RA mengaku mengalami rudapaksa saat tidur di lantai dua Eks Pasar Mentaya. Ia menyebut peristiwa tersebut terjadi dua kali.
Namun, dugaan tersebut masih berdasarkan pengakuan RA dan belum melalui proses penyelidikan untuk memastikan identitas maupun keterlibatan pihak yang disebut.
Halikinnor mengatakan pemerintah daerah juga berupaya meminimalisir potensi tindak kejahatan dengan mengoptimalkan aset pemerintah yang selama ini belum dimanfaatkan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Pasar Blauran. Pemkab Kotim berencana mengembangkan kawasan tersebut dengan konsep pasar tradisional yang dilengkapi area food court.
Halikinnor telah meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan untuk merancang konsep pengembangan Pasar Blauran.
Menurutnya, pasar tradisional dapat dikemas menjadi kawasan yang memiliki daya tarik wisata sekaligus menjadi ciri khas daerah.
"Karena kalau kita lihat di Australia, di Melbourne itu, justru pasar tradisional itu bisa dikemas, itu bisa jadi ciri khas daerah, itu jadi kunjungan wisata. Kemarin mereka melaporkan ke saya dan saya setuju," ujarnya.
Pengembangan Pasar Blauran akan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah, di antaranya Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pariwisata, serta Dinas Perhubungan.
Konsep tersebut saat ini masih dalam tahap penyusunan. Pemerintah daerah juga berencana mempertahankan karakter lama Pasar Blauran dengan melakukan penataan, termasuk pencahayaan dan desain kawasan agar lebih menarik.
"Jadi nanti Pasar Blauran itu karena kita tahu itu lama, itu kita pertahankan. Tapi kita desain lampunya, kita bentuk bagaimana itu supaya jadi sesuatu yang menarik. Saat ini sedang konsep, sedang berjalan," jelasnya.
Halikinnor berharap pengembangan tersebut dapat membuat aset daerah kembali aktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, aktivitas yang meningkat di kawasan tersebut diharapkan dapat mengurangi ruang yang berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas kriminal.
"Mudah-mudahan, karena dengan begitu kita supaya itu bisa bermanfaat, otomatis kriminalnya itu bisa hilang. Paling tidak, tidak di situlah dia. Ini sedang kita susun programnya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









