BORNEONEWS, Palangka Raya – Kemarau berkepanjangan dan kabut asap menjadi bagian dari dinamika yang mewarnai pergerakan harga di Kalimantan Tengah sepanjang September 2026. Di tengah kondisi tersebut, inflasi tahunan Kalteng tercatat mencapai 5,02 persen.
Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. IHK naik dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 pada September 2026.
"Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,40 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 3,21 persen," kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman dalam penyampaian berita resmi statistik pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Salah satu catatan penting BPS dalam perkembangan harga September adalah kemarau berkepanjangan yang berdampak terhadap produktivitas berbagai tanaman hortikultura. Komoditas yang terdampak antara lain cabai rawit, ketimun, kacang panjang dan tomat.
Komoditas tersebut kemudian muncul dalam daftar penyumbang inflasi bulanan September. Cabai rawit, ketimun, kacang panjang dan tomat tercatat sebagai komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi m-to-m.
Tekanan pangan juga terlihat dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.
"Kelompok ini mengalami inflasi 0,84 persen secara bulanan dan memberikan andil terbesar, yakni 0,32 poin, terhadap inflasi September yang sebesar 0,40 persen," katanya.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau bahkan mengalami inflasi 7,50 persen dengan andil mencapai 2,91 poin. Komoditas seperti beras, ikan nila, cabai rawit, minyak goreng, ikan patin dan sejumlah komoditas pangan lainnya masuk dalam daftar penyumbang inflasi y-on-y.
Di sisi distribusi, BPS juga mencatat karhutla dan kabut asap mengganggu jarak pandang pada jalur transportasi darat, udara dan sungai. Kondisi tersebut berdampak pada proses distribusi bahan pangan dari daerah produksi menuju pasar tradisional.
Gangguan transportasi juga tercermin dari adanya penutupan sementara Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya akibat terbatasnya jarak pandang di landasan pacu karena kabut asap.
Faktor lain yang turut masuk dalam dinamika harga September adalah penyesuaian tarif BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026, termasuk solar jenis Dexlite dan Pertamina Dex. Solar tercatat sebagai salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan.
Meski demikian, tidak seluruh komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi, antara lain daging ayam ras, bawang merah, bawang putih dan angkutan udara.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi September tidak berdiri pada satu faktor. Produksi pangan, distribusi, kondisi kabut asap dan perubahan harga energi menjadi bagian dari dinamika yang berlangsung bersamaan, sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi Kalteng. (TESTI PRISCILLA/j)









