PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kemarau berkepanjangan mulai tercermin dalam pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di Kalimantan Tengah. Cabai rawit, ketimun, kacang panjang hingga tomat menjadi sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi pada September 2026.

Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi September 2026 secara bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,40 persen. Dari angka tersebut, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,32 poin.

Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,84 persen pada September dibandingkan Agustus 2026.

Dalam catatan perkembangan harga September, BPS menyebut kemarau berkepanjangan berdampak terhadap produktivitas berbagai tanaman hortikultura.

"Beberapa di antaranya cabai rawit, ketimun, kacang panjang dan tomat," kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman dalam penyampaian berita resmi statistik pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Komoditas-komoditas tersebut kemudian masuk dalam daftar yang dominan memberikan andil terhadap inflasi bulanan. Selain cabai rawit, ketimun, kacang panjang dan tomat, tekanan harga juga datang dari ikan nila, beras, terong, ikan patin, kangkung, ikan tongkol dan sawi hijau.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga pangan pada September tidak hanya berkaitan dengan komoditas strategis seperti beras. Komoditas hortikultura yang produksinya sensitif terhadap kondisi cuaca juga ikut mengerek harga.

Tekanan pangan semakin menarik ketika dikaitkan dengan kondisi distribusi. BPS mencatat karhutla dan kabut asap turut mengganggu jarak pandang pada jalur transportasi darat, udara dan sungai. Kondisi tersebut disebut dapat memperlambat distribusi bahan pangan dari daerah produksi menuju pasar tradisional.

Gangguan jarak pandang juga berdampak pada transportasi udara. Terbatasnya jarak pandang landasan pacu akibat kabut asap menyebabkan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat ditutup sementara.

Di sisi lain, faktor energi juga ikut mewarnai pergerakan harga. Mulai 1 September 2026 terjadi penyesuaian tarif BBM nonsubsidi, termasuk Dexlite dan Pertamina Dex. Komoditas solar tercatat menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi September.

"Secara tahunan, tekanan harga pangan bahkan lebih besar. Inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau mencapai 7,50 persen, dengan andil 2,91 poin terhadap inflasi Kalteng yang secara keseluruhan mencapai 5,02 persen," tuturnya.

BPS mencatat sejumlah komoditas dominan memberikan andil inflasi tahunan, di antaranya beras, emas perhiasan, ikan nila, bensin, cabai rawit, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, terong, solar, ketimun dan kacang panjang.

Namun, kenaikan harga tidak terjadi pada seluruh komoditas. Beberapa komoditas justru memberikan tekanan deflasi, seperti daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, angkutan udara, bawang putih dan udang basah.

Dengan inflasi bulanan sebesar 0,40 persen, inflasi tahun kalender Kalteng hingga September 2026 mencapai 3,21 persen. Sedangkan secara tahunan, inflasi mencapai 5,02 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa cuaca dan kondisi distribusi menjadi bagian penting dalam membaca pergerakan harga pangan Kalteng. Ketika produksi hortikultura menghadapi tekanan kemarau dan distribusi menghadapi gangguan kabut asap, sejumlah komoditas pangan tercatat ikut memberikan tekanan terhadap inflasi September.

Pantauan Borneonews di lapangan memang beberapa sayuran hijau menunjukkan kenaikan harga yang signifikan. Selain harga yang meningkat, kualitas sayuran yang dijual juga menurun.

"Sayurnya kurang bagus. Harga pare sekarang Rp35.000 yang besar, jarang ada yang beli. Orang lebih memilih membeli pare yang kecil-kecil kurus karena harganya lebih murah. Ibaratnya, asal ada rasa parenya saja asal murah," tutur Mama Kembar, salah seorang pedagang sayuran di kawasan Tingang.

Kondisi yang sama juga terjadi di Pasar Malam Gurame. Sayur sawi pahit yang biasanya hanya dihargai Rp5.000 per ikat, kini melambung hingga di angka Rp10.000 per ikat.

"Iya, harganya agak mahal karena langka. Seikat Rp10.000," tutur pedagang.

Hal ini juga dikeluhkan seorang ibu rumah tangga, Yosi, di kawasan Tingang.

"Kaget tadi beli bayam seikatnya Rp12.000. Kondisi sedang kabut asap begini dagangan saya juga menurun pembelinya, harga sayuran malah meningkat tajam. Jadi lebih memilih beli telur dan mie saja rasanya," keluhnya. (TESTI PRISCILLA/j)